UPDATE HARGA DOC 23 FEBRUARI 2016 CIBADAK 3000, superchick 3500,CP SUPER 4500,CP POLOS 3800 WONOKOYO 2800, kms 3000 PEMESANAN MINIMAL 2500 EKOR DOC AKAN KAMI KIRIM KE KANDANG ANDA.

Minggu, 12 Mei 2013

BABY CHICK FEEDER


| Print |
doc feeder, doc feeder medion, tempat ransum anak ayam, tempat makanan anak ayam 
DOC Feeder
Tempat ransum untuk anak ayam
DOC FEEDER merupakan tempat ransum untuk anak ayam (DOC) yang berumur 16 hari atau kurang. DOC FEEDER dirancang dengan pemikiran ergonomis, yang menciptakan kenyamanan dan keamanan bagi aktivitas makan anak ayam, sehingga efisiensi ransum meningkat dan performa akhir ayam optimal.
Keunggulan DOC FEEDER

  • Tempat ransum dengan desain ergonomis
    Sesuai peruntukkannya sebagai tempat ransum anak ayam, DOC FEEDER didesain sesuai dengan ukuran anak ayam. Misalnya, tinggi piringnya disesuaikan dengan tinggi punggung anak ayam dan leher botolnya dibuat lebih tinggi agar kepala anak ayam berusia lebih dari 10 hari tidak bersinggungan dengan botol. Sebagai tempat ransum putar, diameter piring tempat ransum DOC ini dibuat cukup lebar untuk memberi kesempatan lebih bagi anak ayam makan bersama-sama. Jarak ruang tempat ransum dibuat cukup sempit untuk mencegah anak ayam masuk ke dalam tempat ransum.
    Dengan demikian, anak ayam dapat makan dengan nyaman dan feed intake (konsumsi ransum) anak ayam tercapai.
  • Tempat ransum yang dapat menekan penularan penyakit
    Karena selama makan anak ayam tidak bisa masuk ke dalam piring ransum, ransum akan selalu berada dalam keadaan bersih dan higienis, tidak tercampur litter maupun feses. Kontaminasi pun berkurang, palatabilitas ransum tetap baik, dan penularan bibit penyakit yang berasal dari litter maupun feses dapat ditekan.
  • Tempat makan DOC dengan efisiensi ransum
    Dengan menggunakan DOC FEEDER, pemberian ransum menjadi lebih efisien karena jumlah ransum yang terbuang akibat dikais-kais oleh anak ayam atau yang bercampur litter maupun feses lebih sedikit.
  • Tempat ransum dengan bahan berkualitas (tahan lama)
    Baby chick feeder ini terbuat dari bahan baku plastik yang berkualitas sehingga tahan lama dan menjadi investasi yang menguntungkan bagi usaha peternakan.

Spesifikasi DOC FEEDER
Spesifikasi
DOC FEEDER
Dimensi piring
Diameter = 26,6 cm
Tinggi = 4,2 cm
Dimensi assembly
Diameter = 26,6 cm
Tinggi = 19 cm
Material bahan
Plastik
Warna
Kuning
Kapasitas ransum
3 kg
Daya tampung anak ayam
50-80 ekor

Piring dan botol tempat makan anak ayam (DOC FEEDER) dibuat dengan warna kuning cerah dengan tujuan meningkatkan nafsu makan ayam. sumber http://info.medion.co.id/index.php/lain-lain/informasi-produk/doc-feeder/7-info-produk/918-info-produk-doc-feeder


Kamis, 07 Februari 2013

DOC BROILER DAN PEJANTAN

ANDA KESULITAN MENDAPATKAN DOC DI JAWA, KAMI SIAP MEMBERI SOLUSI MENYEDIAKAN DOC DARI LUAR PULAU, 

TERSERDIA : 
DOC  BROILER CP DARI BALIKPAPAN DAN BANJARMASIN.
DOC PEJANTAN DARI MEDAN.

Rabu, 09 Januari 2013

Virus Flu Burung Bisa Menular dari Itik ke Manusia


Jakarta, Kompas - Flu burung yang menyerang itik bisa menular ke manusia. Virus itu sudah menjangkiti delapan orang di China, Hongkong, dan Banglades, tiga orang di antaranya meninggal. Kasus itu terjadi sejak tahun 2009. Meski demikian, penularan virus H5N1 subkelompok 2.3.2 ke manusia belum ditemukan di Indonesia.

”Angka kematian manusia di dunia akibat virus flu burung subkelompok 2.3.2 sebesar 37,5 persen,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, di Jakarta, Rabu (9/1).

Tingkat kematian itu lebih rendah dibandingkan kematian manusia akibat virus H5N1 subkelompok 2.1.3 yang menyerang ayam. Kematian manusia akibat virus ini pada 2003-2012 mencapai 59 persen.

Ketua Panel Ahli Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis Amin Soebandrio mengatakan, penularan virus flu burung ke manusia ditentukan oleh keganasan virus, jumlah virus yang menginfeksi, serta kekebalan tubuh seseorang. ”Orang-orang yang terpapar virus dari sumber yang sama belum tentu semua terkena flu burung,” katanya.

Tjandra menambahkan, penularan virus dari hewan hingga menimbulkan sakit pada manusia juga ditentukan lamanya kontaminasi dengan virus, kebiasaan menjaga kebersihan diri, serta sanitasi lingkungan.

Gejala flu burung pada manusia, baik akibat virus subkelompok 2.3.2 maupun 2.1.3, sama. Gejalanya antara lain demam tinggi secara tiba-tiba, batuk, pilek, dan sesak napas.

Gejala awal, kata Amin, mirip penyakit lain akibat virus dan tidak spesifik. Karena itu, banyak dokter yang mendiagnosis gejala itu sebagai penyakit tifus atau demam berdarah dengue.

Kecurigaan adanya flu burung biasanya muncul jika pasien memiliki riwayat berhubungan dengan unggas. Namun, sejumlah kasus terakhir menunjukkan flu burung juga muncul pada orang yang riwayat kontaknya dengan unggas sulit ditelusuri. Karena itu, tim medis dan keluarga perlu mewaspadai gejala mirip tifus atau demam berdarah dengue terkait kemungkinan flu burung.

Untuk mencegah penularan virus flu burung ke manusia, Tjandra mengimbau masyarakat menghindari kontak langsung dengan itik atau produknya, terutama itik sakit. Jika terpaksa berhubungan, seperti peternak itik, usahakan menggunakan alat pelindung, seperti masker dan sarung tangan. Setelah menjamah itik atau produknya, cuci tangan dan baju dengan sabun.

Koordinator Unit Pengendali Penyakit Avian Influenza Pusat Kementerian Pertanian M Azhar menambahkan, unggas sebaiknya dikandangkan. Kandang harus terpisah dari rumah dan dibersihkan secara berkala. Selain itu, unggas yang berbeda jenis jangan dikandangkan bersama- sama untuk menghindari penularan virus ke unggas lain.

Meski demikian, Azhar meminta masyarakat tidak khawatir mengonsumsi daging dan telur itik. Virus akan mati apabila produk dimasak dengan suhu tinggi. Namun, bukan berarti masyarakat boleh memperdagangkan atau mengonsumsi itik yang sakit.

Itik sakit atau yang memiliki gejala terserang flu burung harus dimusnahkan dengan cara dibakar kemudian dikubur. Pemusnahan juga harus dilakukan pada itik lain di sekitar itik yang menderita flu burung. Teoretisnya pada itik dalam radius 1 kilometer.

Gejala itik terserang flu burung antara lain leher terputar, kejang, sulit berdiri, nafsu makan kurang, dan mata keputihan. Untuk itik petelur, produksi telurnya tiba-tiba menurun.

Menyebar

Sejak ditemukan pada Oktober 2012 hingga Selasa (8/1), virus flu burung subkelompok 2.3.2 telah menyebar di 69 kabupaten/kota di 11 provinsi. Virus itu sudah menyebabkan 242.000 itik mati di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Bali. Padahal, pada 26 Desember virus itu baru menewaskan 150.000 itik di 50 kabupaten/kota di sembilan provinsi.

Deputi Bidang Koordinasi Kesehatan, Kependudukan, dan Keluarga Berencana pada Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Emil Agustiono mengatakan, buruknya kontrol lalu lintas perdagangan itik antardaerah dan antarpulau membuat flu burung pada itik cepat menyebar.

Petugas dinas perhubungan dan balai veteriner di daerah memiliki wewenang memeriksa unggas yang masuk ke suatu daerah. ”Jika pengawasan lalu lintas unggas bagus, harusnya tidak menyebar secepat ini,” katanya.

Azhar menambahkan, virus flu burung pada itik bisa berpindah ke unggas lain, seperti entok dan ayam kampung. Virus ditularkan melalui ingus dan kotoran itik. Virus ini bisa terbawa oleh udara dan air hingga menular ke mana-mana. Jika virus ini menular ke ternak ayam komersial, kerugian ekonominya dipastikan sangat tinggi.

Makin banyaknya variasi virus flu burung yang menyerang berbagai unggas, pemerintah dipastikan makin sulit mengendalikan. Terlebih lagi jika virus sudah menular ke manusia. Tak hanya merugikan ekonomi, kata Emil, hal ini bisa mengancam ketahanan negara. (MZW)

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Asep Candra

Sabtu, 29 Desember 2012

Varian Baru Virus Flu Burung Ditemukan di Indonesia



ShutterstockIlustrasi

YOGYAKARTA, KOMPAS.com
 - Varian baru virus flu burung yakni clade A1 (2.3.2.1) ditemukan di Indonesia akhir-akhir ini. Kelompok virus ini lebih ganas dari kelompok virus sebelumnya yakni clade A1 H5N1 (2.1)

"Di Indonesia virus ini baru terdeteksi pada tahun 2012 dengan sejumlah kasus kematian mendadak pada itik di berbagai daerah di Indonesia," papar Veterinary Epidemiologist Balai Besar Veterinet Wates Yogyakarta, Putut D.Purnomo, dalam jumpa pers "Isu Flu Burung Pada Itik," di UGM, Rabu (26/12/2012).

Putut menjelaskan pihaknya menerima laporan dari Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta bahwa terdapat kematian itik secara mendadak dalam jumlah besar dalam empat bulan terakhir ini. Berdasarkan data Balai Besar Veterinet Wates Yogyakarta, jumlah kematian itik di tiga provinsi tersebut mencapai 113.700 ekor.

Berdasarkan uji laboratorium, penyebab kematian itik di antaranya terjadi infiltrasi limfosit dalam jumlah tinggi pada otot jantung, peradangan akut pada otak, kornea mata yang memutih, serta perubahan fisik lainnya. Setelah uji coba infeksi virus AI, gambaran patologis menunjukkan bahwa kematian ini akibat infeksi virus AI.

Masuknya virus ini diduga dari perdagangan impor serta migrasi burung liar. "Bebek peking salah satunya kami duga menyebarkan virus ini. Bebek jenis ini sedang naik daun dan banyak diburu orang untuk dikonsumsi," tambah Putut.

Selama ini, Pulau Jawa menjadi daerah terbesar penyebaran virus baru H5N1 ini. Dimungkinkan akan berkembang terus karena perdagangan itik di Indonesia tinggi.

Mengingat belum adanya vaksin untuk kelompok virus baru ini, ia berharap peternak itik lebih melakukan tindakan preventif. Di antaranya menjaga kebersihan kandang, pemusnahan terbatas, serta disinfektan.

Ia pun menambahkan, ada kemungkinan kelompok virus baru ini menyerang unggas lain serta manusia. Namun, dugaan ini masih membutuhkan uji laboratorium lagi.

Guru Besar Virologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM Widya Asmara mengatakan, virus flu burung kelompok ini biasanya menyerang unggas liar di daratan Asia. Pada 2010, virus jenis ini ditemukan di Nepal kemudian ke India, lalu ke Cina, serta Jepang.

Virus ini kemudian mewabah hingga Asia dan Desember merebak di  Indonesia. "Virus ini bukan mutasi dari kelompok virus sebelumnya (2.1)," kata Widya

Penularan virus ini bisa terjadi ketika burung melakukan migrasi saat musim dingin. Perdagangan itik yang tidak terdeteksi pun bisa membawa virus baru tersebut.

Ciri unggas yang terserang adalah lemas, matanya keputihan, sering berputar-putar, dan mati mendadak. Kebanyakan itik muda. Hingga saat ini pemerintah Indonesia belum memiliki vaksin untuk flu burung jenis ini.

Sebagai pencegahan, peternak bisa melakukan pemusnahan terbatas, dekontaminasi, serta memperketat pengawasan perdagangan unggas dari daerah yang terinfeksi. "Kalau hanya dengan fogging, hanya merupakan langkah pembasmian nyamuk dewasa bukan virus," katanya.

Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Provinsi Daerah Istimwa Yogyakarta Ismartoyo, tak menampik bila sebagian besar unggas mati mendadak akibat virus tersebut.

"Sebagian besar kematian berada di daerah pinggir pantai. Jumlahnya mencapai 4.700 ekor," tambahnya.

Diakuinya, virus flu burung yang menyerang itik di DIY dibawa dari Jawa Timur karena suplai telur untuk penetasan berasal dari daerah tersebut. Setiap harinya, peternak DIY mendatangkan delapan ton telur itik dari Blitar dan Kediri.
(Olivia Lewi Pramesti/National Geographic Indonesia)

Sumber :

National Geographic Indonesia

Selasa, 23 Oktober 2012

Baby Chick Feeder” : Alternatif lain menekan BEP


“Baby Chick Feeder” : Alternatif lain menekan BEP

Oleh : Sopyan Haris *

Estimasi baca : 5 menit

Kreatifitas adalah “menu” yang tidak boleh hilang dalam persaingan dalam bisnis apapun. Tak terkecuali dalam Budidaya Ayam Broiler maupun Ayam Petelur.

Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat dalam Budidaya Ayam Broiler, usaha menekan biaya produksi merupakan salah satu faktor yang tidak boleh diabaikan. Dan telah disadari bersama bahwa lebih dari 70% biaya produksi dipengaruhi oleh harga pakan. Sayangnya masih selalu terjadi pemborosan pakan akibat pakan yang tumpah atau pakan yang kotor akibat tercampur dengan litter maupun kotoran.
Selama masa brooding, tanpa disadari bahwa pakan yang terbuang akibat pakan kotor tercampur litter dan kotoran merupakan faktor yang sangat mempengaruhi performance akhir broiler. Andaipun tercatat pakan yang dihabiskan dalam 7 hari pertama adalah 190gr/ekor, tetapi pada kenyataannya lebih dari 10% adalah terbuang. Bila 190gr tersebut benar-benar dikonsumsi ayam maka berat badan umur 7 hari akan sangat baik dan performance akhir panen mendapat FCR dan IP yang bagus.

Minggu, 07 Oktober 2012

BUDIDAYA TERNAK ITIK PETELUR

1. SEJARAH SINGKAT
Itik dikenal juga dengan istilah Bebek (bhs.Jawa). Awalnya bebek berasal dari Amerika Utara merupakan itik liar ( Anas moscha) atau Wild mallard. Terus menerus dijinakkan oleh manusia hingga jadilah itik yang diperlihara sekarang yang disebut Anas domesticus (ternak itik).

2. SENTRA PERIKANAN
Secara internasional ternak itik terpusat di negara-negara Amerika utara, Amerika Selatan, Asia, Filipina, Malaysia, Inggris, Perancis (negara yang mempunyai musim tropis dan subtropis). Sedangkan di Indonesia ternak itik terpusatkan di daerah pulau Jawa (Tegal, Brebes dan Mojosari), Kalimantan (Kecamatan Alabio, Kabupaten Amuntai) dan Bali serta Lombok.

3. JENIS
Klasifikasi (penggolongan) itik, menurut tipenya dikelompokkan dalam 3 (tiga) golongan, yaitu: 
1. Itik petelur seperti Indian Runner, Khaki Campbell, Buff (Buff Orpington) dan CV 2000-INA;
2. Itik pedaging seperti Peking, Rouen, Aylesbury, Muscovy, Cayuga;
3. Itik ornamental (itik kesayangan/hobby) seperti East India, Call (Grey Call), Mandariun, Blue Swedish, Crested, Wood.
Jenis bibit unggul yang diternakkan, khususnya di Indonesia ialah jenis itik petelur seperti itik tegal, itik khaki campbell, itik alabio, itik mojosari, itik bali, itik CV 2000-INA dan itik-itik petelur unggul lainnya yang merupakan produk dari BPT (Balai Penelitian Ternak) Ciawi, Bogor.

4. MANFAAT
1. Untuk usaha ekonomi kerakyatan mandiri.
2. Untuk mendapatkan telur itik konsumsi, daging, dan juga pembibitan ternak itik.
3. Kotorannya bisa sebagai pupuk tanaman pangan/palawija.
4. Sebagai pengisi kegiatan dimasa pensiun.
5. Untuk mencerdaskan bangsa melalui penyediaan gizi masyarakat.

5. PERSYARATAN LOKASI
Mengenai lokasi kandang yang perlu diperhatikan adalah: letak lokasi lokasi jauh dari  keramaian/pemukiman penduduk, mempunyai letak transportasi yang mudah dijangkau dari lokasi pemasaran dan kondisi lingkungan kandang mempunyai iklim yang kondusif bagi produksi ataupun produktivitas ternak. Itik serta kondisi lokasi tidak rawan penggusuran dalam beberapa periode produksi.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Sebelum seorang peternak memulai usahanya, harus menyiapkan diri, terutama dalam hal pemahaman tentang pancausaha beternak yaitu
(1). Perkandangan;
(2). Bibit Unggul;
(3). Pakan Ternak;
(4). Tata Laksana dan
(5). Pemasaran Hasil Ternak.

Penyiapan Sarana dan Peralatan
  1. Persyaratan temperatur kandang ± 39 ° C.
  2. Kelembaban kandang berkisar antara 60-65%
  3. Penerangan kandang diberikan untuk memudahkan pengaturan kandang agar tata kandang sesuai dengan fungsi bagian-bagian kandang
  4. Kondisi kandang dan perlengkapannyaKondisi kandang tidak harus dari bahan yang mahal tetapi cukup sederhana asal tahan lama (kuat). Untuk perlengkapannya berupa  tempat makan, tempat minum dan mungkin perelengkapan tambahan lain yang bermaksud positif dalam managemen
     
  5. Model kandang ada 3 (tiga) jenis yaitu:
  • kandang untuk anak itik (DOD) oada masa stater bisa disebut juga kandang box, dengan ukuran 1 m 2 mampu menampung 50 ekor DOD
  • kandang Brower (untuk itik remaja) disebut model kandang Ren/kandang kelompok dengan ukuran 16-100 ekor perkelompok
  • kandang layar ( untuk itik masa bertelur) modelnya bisa berupa kandang baterei ( satu atau dua ekor dalam satu kotak) bisa juga berupa kandang lokasi ( kelompok) dengan ukuran setiap meter persegi 4-5 ekor itik dewasa ( masa bertelur atau untuk 30 ekor itik dewasa dengan ukuran kandang 3 x 2 meter).
Pembibitan
Ternak itik yang dipelihara harus benar-benar merupakan ternak unggul yang telah diuji keunggulannya dalam memproduksi hasil ternak yang diharapkan.
1. Pemilihan bibit dan calon induk
    Pemilihan bibit ada 3 ( tiga) cara untuk memperoleh bibit itik yang baik adalah sebagai berikut :
  • membeli telur tetas dari induk itik yang dijamin keunggulannya
  • memelihara induk itik yaitu pejantan + betina itik unggul untuk mendapatkan telur tetas kemudian meletakannya pada mentok, ayam atau mesin tetas
  • membeli DOD (Day Old Duck) dari pembibitan yang sudah dikenal mutunya maupun yang telah mendapat rekomendasi dari dinas peternakan setempat.Ciri DOD yang baik adalah tidak cacat (tidak sakit) dengan warna bulu kuning mengkilap.
2. Perawatan bibit dan calon induk
  1. Perawatan Bibit. -> Bibit (DOD) yang baru saja tiba dari pembibitan, hendaknya ditangani secara teknis agar tidak salah rawat. Adapun penanganannya sebagai berikut: bibit diterima dan ditempatkan pada kandang brooder (indukan) yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam brooder adalah temperatur brooder diusahakan yang anak itik tersebar secara merata, kapasitas kandang brooder (box) untuk 1 m² mampu menampung 50 ekor DOD, tempat pakan dan tempat minum sesuai dengan ketentuan yaitu jenis pakan itik fase stater dan minumannya perlu ditambah vitamin/mineral.
  2. Perawatan calon Induk. -> Calon induk itik ada dua macam yaitu induk untuk produksi telur konsumsi dan induk untuk produksi telur tetas. Perawatan keduanya sama saja, perbedaannya hanya pada induk untuk produksi telur tetas harus ada pejantan dengan perbandingan 1 jantan untuk 5 – 6 ekor betina.
  3. Reproduksi dan Perkawinan. -> Reproduksi atau perkembangbiakan dimaksudkan untuk mendapatkan telur tetas yang fertil/terbuahi dengan baik oleh itik jantan. Sedangkan sistem perkawinan dikenal ada dua macam yaitu itik hand mating/pakan itik yang dibuat oleh manusia dan nature mating (perkawinan itik secara alami).
3. Pemeliharaan
  • Sanitasi dan Tindakan Preventif. -> Sanitasi kandang mutlak diperlukan dalam pemeliharaan itik dan tindakan preventif (pencegahan penyakit) perlu diperhatikan sejak dini untuk mewaspadai timbulnya penyakit.
  • Pengontrol Penyakit. -> Dilakukan setiap saat dan secara hati-hati serta menyeluruh. Cacat dan tangani secara serius bila ada tanda-tanda kurang sehat pada itik.
  • Pemberian Pakan. -> Pemberian pakan itik tersebut dalam tiga fase, yaitu fase stater (umur 0– 8 minggu), fase grower (umur 8–18 minggu) dan fase layar (umur 18–27 minggu). Pakan ketiga fase tersebut berupa pakan jadi dari pabrik (secara praktisnya) dengan kode masing-masing fase. Cara memberi pakan tersebut terbagi dalam empat kelompok yaitu:
  1. umur 0-16 hari diberikan pada tempat pakan datar (tray feeder)
  2. umur 16-21 hari diberikan dengan tray feeder dan sebaran dilantai
  3. umur 21 hari samapai 18 minggu disebar dilantai.
  4. umur 18 minggu–72 minggu, ada dua cara yaitu 7 hari pertama secara pakan peralihan dengan memperhatikan permulaan produksi bertelur sampai produksi mencapai 5%. Setelah itu pemberian pakan itik secara ad libitum (terus menerus).
Dalam hal pakan itik secara ad libitum, untuk menghemat pakan biaya baik tempat ransum sendiri yang biasa diranum dari bahan-bahan seperti jagung, bekatul, tepung ikan, tepung tulang, bungkil feed suplemen.

Pemberian minuman itik, berdasarkan pada umur itik juga
yaitu :
  • umur 0-7 hari, untuk 3 hari pertama iar minum ditambah vitamin dan mineral, tempatnya asam seperti untuk anak ayam.
  • umur 7-28 hari, tempat minum dipinggir kandang dan air minum diberikan secara ad libitum (terus menerus)

  • umur 28 hari-afkir, tempat minum berupa empat persegi panjang  dengan ukuran 2 m x 15 cm dan tingginya 10 cm untuk 200-300 ekor. Tiap hari dibersihkan.
4. Pemeliharaan Kandang
Kandang hendaknya selalu dijaga kebersihannya dan daya gunanya agar produksi tidak terpengaruh dari kondisi kandang yang ada.

7. HAMA DAN PENYAKIT
Secara garis besar penyakit itik dikelompokkan dalam dua hal yaitu:
  1. penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri dan protozoa
  2. penyakit yang disebabkan oleh defisiensi zat makanan dan tata laksana perkandangan yang kurang tepat
Adapun jenis penyakit yang biasa terjangkit pada itik adalah:
  • Penyakit Duck Cholera
Penyebab: bakteri Pasteurela avicida.
Gejala: mencret, lumpuh, tinja kuning kehijauan.
Pengendalian: sanitasi kandang,pengobatan dengan suntikan penisilin pada urat daging dada dengan dosis sesuai label obat.
  • Penyakit Salmonellosis
Penyebab: bakteri typhimurium.
Gejala: pernafasan sesak, mencret.
Pengendalian: sanitasi yang baik, pengobatan dengan furazolidone melalui pakan dengan konsentrasi 0,04% atau dengan sulfadimidin yang dicampur air minum, dosis disesuaikan dengan label obat.
8. PANEN
1. Hasil Utama
Hasil utama, usaha ternak itik petelur adalah telur itik
2. Hasil Tambahan
Hasil tambah berupa induk afkir, itik jantan sebagai ternak daging dan kotoran ternak sebagai pupuk tanam yang berharga
9. PASCAPANEN
Kegiatan pascapanen yang bias dilakukan adalah pengawetan. Dengan pengawetan maka nilai ekonomis telur itik akan lebih lama dibanding jika tidak dilakukan pengawetan. Telur yang tidak diberikan perlakuan pengawetan hanya dapat tahan selama 14 hari jika disimpan pada temperatur ruangan bahkan akan segera membusuk.
Adapun perlakuan pengawetan terdiri dari 5 macam, yaitu:
  • Pengawetan dengan air hangat
Pengawetan dengan air hangat merupakan pengawetan telur itik yang paling sederhana. Dengan cara ini telur dapat bertahan selama 20 hari.
  • Pengawetan telur dengan daun jambu biji
Perendaman telur dengan daun jambu biji dapat mempertahankan mutu telur selama kurang lebih 1 bulan. Telur yang telah direndam akan berubah warna menjadi kecoklatan seperti telur pindang.
  • Pengawetan telur dengan minyak kelapaPengawetan ini merupakan pengawetan yang praktis. Dengan cara ini warna kulit telur dan rasanya tidak berubah.
  • Pengawetan telur dengan natrium silikatBahan pengawetan natrium silikat merupkan cairan kental, tidak berwarna,jernih, dan tidak berbau. Natirum silikat dapat menutupi pori kulit telur sehingga telur awet dan tahan lama hingga 1,5 bulan. Adapun caranya adalah dengan merendam telur dalam larutan natrium silikat10% selama satu bulan.
  • Pengawetan telur dengan garam dapurGaram direndam dalam larutan garam dapur (NaCl) dengan konsentrasi 25-40% selama 3 minggu.
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya itik di Semarang tahun 1999 adalah sebagai berikut:.
  • Permodalan
  • Modal kerja
  1. Anak itik siap telur um 6 bl 36 paketx500 ek x Rp 6.000 ====== Rp108.000.000,-
  2. Biaya kelancaran usaha dan lain-lain ========================= Rp 4.000.000,-
  •  Modal Investasi
  1. Kebutuhan kandang 36 paket x Rp 500.000,- ================== Rp 18.000.000,-. Jumlah kebutuhan modal : Rp 130.000.000,- Prasyaratan kredit yang dikehendaki:
  2. Bunga (menurun) 20% /tahun 
  3. Masa tanggung angsuran 1 tahun
  4. Lama kredit 3 tahun
  • Biaya-biaya
  • Biaya kelancaran usaha dan lain-lain ======================= Rp 4.000.000,-
  • Biaya tetap
  • Biaya pengambalian kredit:
  • Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun I ============ Rp 14.723.000,-
  • Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun II =========== Rp 86.125.000,-
  • Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun III ========== Rp 73.125.000,-
  • Biaya penyusutan kandang:
  • biaya penyusutan kandang tahun I ================== Rp 3.600.000,-
  • biaya penyusutan kandang tahun II ================== Rp 3.600.000,-
  • biaya penyusutan kandang tahun III ================= Rp 3.600.000,-
  • Biaya tidak tetap
  •  Biaya pembayaran ransum:
  1. biaya ransum tahun I ============================== Rp 245.700.000,-
  2. biaya ransum tahun II ============================== Rp 453.600.000,-
  3. biaya ransum tahun III ============================= Rp 453.600.000,-
  • Biaya pembayaran itik siap produksi:
  1. pembayaran tahun I =============================== Rp 108.000.000,-
  2. pembayaran tahun II -
  3. pembayaran tahun III -
  • Biaya pembayaran obat-obatan:
  • biaya pembayaran obat-obatan tahun I================== Rp 2.457.000,-
  • biaya pembayaran obat-obatan tahun II ================= Rp 4.536.000,-
  • biaya pembayaran obat-obatan tahun III ================= Rp 4.436.000,-( Biaya obat-obatan adalah 1% dari biaya ransum)
  • Pendapatan
  • Penjualan telur tahun I ================================ Rp 384.749.920,-
  • Penjualan telur tahun II =============================== Rp 615.600.000,-
  • Penjualan telur tahun III =============================== Rp 615.600.000,-
  • Penjualan itik culling 2 x 1.425 x Rp 2.000,- ================= Rp 5.700.000,-
2. Gambaran Peluang Agribisnis
Telur dan daging itik merupakan komoditi ekspor yang dapat memberikan keuntungan besar. Kebutuhan akan telur dan daging pasar internasional sangat besar dan masih tidak seimbang dari persediaan yang ada. Hal ini dapat dilihat bahwa baru dua negara Thailand dan Malaysia yang menjadi negara pengekspor terbesar. Hingga saat ini budidaya itik masih merupakan komoditi yang menjanji untuk dikembangkan secara intensif.

11. DAFTAR PUSTAKA
  1. Bambang Suharno, Ir. dan Khairul Amri. Beternak itik secara intensif. Penerbit Penebar Swadaya. Tahun 1998
  2. Redaksi Trubus. Beternak Itik CV. 2000-INA. Penerbit Penebar Swadaya. Tahun 1999
  3. Prawoto; Peternak ternak itik. Desa Sitemu Kec. Taman Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah 52361
12. KONTAK HUBUNGAN
  1. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
  2. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web:
http://www.ristek.go.id
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

Senin, 17 September 2012

Menciptakan Broiler yang Seragam


Ketidakseragaman berat badan akan meningkatkan biaya produksi sehingga menurunkankan pendapatan peternak. Ada cara praktis untuk mendapatkan broiler yang seragam.

            Tujuan memelihara broiler adalah mendapatkan produktivitas yang tinggi serta menghasilkan berat badan yang dikehendaki pasar. Untuk mencapainya, seorang peternak harus berupaya agar broiler yang dipelihara sebagian besar mempunyai berat badan yang ideal pada umur pasar. Dengan demikian perlu diciptakan broiler yang mempunyai berat badan yang seragam.
            Sebagai contoh, kerugian yang akan dialami oleh peternak jika berat badan broiler sangat bervariasi antara lain adalah produksi broiler setiap kandangnya menjadi berkurang, sementara biaya produksinya tetap. Hal ini tentu saja akan memperkecil keuntungan yang diperolehnya. Bervariasinya berat badan ini akan menghasilkan bervariasinya berat karkas atau daging yang diproduksi. Selain itu, konsumen cukup selektif dalam memilih karkas broiler. Mereka menyukai  broiler/karkas broiler dengan berat tertentu. Oleh karena itu, bervariasinya berat badan akan berakibat tertundanya pemasaran yang berarti meningkatnya biaya produksi, atau lebih celakanya terpaksa dijual dengan murah.
            Dibawah ini diberikan petunjuk praktis cara-cara membuat broiler seragam.
Memelihara betina atau jantan saja
            Secara umum berat badan broiler jantan dan betina berbeda. Oleh karena itu, memelihara broiler secara terpisah sangat dianjurkan untuk menciptakan keseragaman. Namun, hal ini tampaknya sulit dilaksanakan mengingat industri bibit saat ini menjualnya secara mixed.
Membeli DOC yang seragam
            Jika memungkinkan, peternak hendaknya membeli DOC yang berat badannya seragam. Hal ini tentu saja memerlukan kerja sama dengan industri bibit, dimana industri bibit selalu menyediakan bibit yang relatif seragam.
DOC segera diberi minum
            Setelah perjalanan jauh yang ditempuh DOC, maka segera setelah sampai dikandang, DOC diberi air minum elektrolit dan energi. Pemberian air minum dilakukan untuk mencegah kehilangan air tubuh, sehingga kehilangan berat badan dapat dicegah. Pemberian energi, elektrolit dan vitamin juga dilakukan untuk mengganti elektrolit yang hilang, sedangkan energi yang diberikan sebagai sumber tenaga. Jika hal ini dilakukan, maka kehilangan berat badan dapat dicegah dan DOC mempunyai kesehatan yang optimal. Untuk memungkinkan semua DOC minum, maka segera setelah tiba, setiap DOC dituntun untuk minum, dan tambahkan jumlah air minum normal sebesar 50-100% selama 4-5 jam. Pakan dapat diberikan setelah periode ini.
            Jika DOC terlambat minum air dalam waktu beberapa hari dapat terlihat ketidakseragaman.
Jumlah tempat pakan dan minum
            Jumlah tempat pakan dan tempat air minum yang terlalu sedikit akan membuat ternak tidak mendapat makan dan minum secara merata. Ketidakmerataan ini dapat menyebabkan ketidakseragaman berat pasar. Hal ini tentu saja dapat menurunkan produksi ayam per kandangnya, yang berakibat langsung menurunkan keuntungan yang diperoleh peternak.
            Biasanya peternak memberi tempat pakan sebanyak 20 buah untuk 1000 ekor. Hal ini tentunya untuk 1 tempat pakan diperuntukkan bagi 50 ekor ayam dewasa. Padahal kapasitas satu tempat pakan hanya berkisar antara 12-17 ekor. Oleh karena itu tidak mengherankan jika terjadi variasi berat badan yang sangat lebar, yang artinya rendahnya keseragaman. Demikian pula kebutuhan tempat air minum, dapat menyebabkan ayam tidak minum secara serempak. Oleh karena itu untuk 1000 ekor ayam dewasa, membutuhkan 60 buah tempat minum.
Pakan/ransum
            Pakan yang dicampur secara tidak merata dapat menyebabkan ketidakseragaman berat pasar ayam. Hal ini dikarenakan ayam tidak menerima zat gizi yang merata. Dengan kata lain, mungkin terdapat ayam yang menderita zat gizi yang berlebihan dan adapula yang kekurangan. Bentuk butiran yang terlalu besar dengan bahan pakan lainnya, karena ayam cenderung memilih butiran yang besar.
            Untuk menghindari hal ini, maka pakan-pakan dibuat pelet. Dengan pelet ayam mau tidak mau akan memakan pakan tersebut tanpa bisa memilih.
Suhu kandang
            Telah diketahui suhu bahwa suhu lingkungan dapat mempengaruhi pertumbuhan ayam. Pada saat anak ayam masih memerlukan panas tambahan, maka seyogyanya ayam mendapat panas tambahan yang merata. Untuk itu, indukan harus diberikan cukup. Sebagai contoh anak ayam mendapat panas berlebihan, akan dapat menurunkan nafsu makan yang berarti anak ayam kurang mendapat gizi yang cukup. Suhu yang terlalu panas akan mengganggu proses metabolisme dalam tubuh. Demikian pula jika anak ayam kurang nyaman, dapat mengganggu proses metabolisme yang dapat menimbulkan abnormalitas.
            Demikian pula jika salah letak posisi kandang, misalnya sebagian kandang yang lain terlindung dengan sinar matahari, hal ini tentunya menyebabkan perbedaan suhu dan kelembaban kurang. Hal ini menyebabkan ketidakseragaman berat badan.
Kepadatan kandang
            Kepadatan kandang dapat mempengaruhi keseragaman berat badan. Kandang yang terlalu padat menyebabkan ayam tidak mendapatkan pakan dan minum secara serentak. Selain itu, kandang yang terlalu dapat menimbulkan kanibalisme dan kebutuhan zat gizi tertentu meningkat. Ketidakseragaman ini dapat menimbulkan prilaku dominasi pada sekelompok ayam.
            Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai dengan 14 ekor/m2, masih cukup baik. Jadi, untuk 1000 ekor broiler memerlukan kandang dengan ukuran 6 x 12 meter.
Penyakit dan abnormalitas
            Kelainan metabolik seperti ascite, defisiensi dan kelebihan zat gizi, abnormalitas kaki serta penyakit infeksi dapat menimbulkan ketidakseragaman. Sebagai contoh, ayam yang mengalami kelainan kaki, menyebabkan ia sulit untuk mendapatkan makan dan minum. Hal ini mengakibatkan sebagian ayam kekurangan zat gizi, sehingga pertumbuhan terhambat.
            Secara umum ayam yang terkena penyakit atau kelainan metabolisme turun nafsu makannya. Selain itu terjadi gangguan metabolisme yang menyebabkan ketidakefisienan penggunaan pakan yang dapat menghambat pertumbuhan.
Variasi dalam perlakuan terhadap individu
            Cara memperlakukan individu juga dapat menghasilkan berat badan yang bervariasi. Ketika kita menangani ribuan ayam untuk vaksinasi, potong paruh dan pindah tempat, adalah sangat sulit untuk memperlakukan setiap ayam sama. Kita harus secara terus menerus memonitor para pegawai dan peralatan untuk meyakinkan bahwa metode kita diterapkan secara seragam bagi setiap ayam.
Kandang baterai yang meningkat
            Pada industri broiler yang menggunakan kandang baterai bertingkat banyak, maka terjadi perbedaan terhadap mutu udara, pencahayaan dan suhu kandang. Perbedaan ini dapat menghasilkan variabilitas berat badan.
Pencahayaan
            Pencayahaan secara alami memegang peranan penting terhadap keseragaman. Intensitas dan panjang matahari bervariasi dari hari ke hari karena musim, posisi matahari dan lekukan bumi. Panjang hari secara normal berkisar antara 15-30 menit sebelum matahari terbit sampai dengan 15-30 menit setelah matahari tenggelam.selama periode 15030 menit senjakala ini panjang gelombang 400-700 milimikron. Beberapa ayam akan mencari cara untuk mendapatkan tempat pakan dan makan ketika intensitas cahaya kurang dari 0,25 ft/candle (atau kurang dari 400 milimikron). Juga kondisi berawan, debu, air dalam udara dan faktor lain juga menurunkan panjang gelombang. Jadi jumlah stimulasi cahaya terhadap glandula pituitari mungkin berbeda pada ayam yang berbeda dan kandang yang berbeda. Hal ini menyebabkan sebagian ayam mencapai dewasa kelamin lebih awal.
            Untuk mengatasi masalah ini, intensitas cahaya dapat disuplementasi secara buatan, jika cahaya yang tersedia secara alami menurun selama periode ”reading”, sehingga semua kandang memperoleh stimulasi yang sama untuk memperbaiki keseragaman.
Sistem pemberian pakan
            Sistem pemberian pakan dapat mempengaruhi keseragaman. Pembatasan pakan di awal pertumbuhan yang salah dapat menyebabkan ketidakseragaman berat badan, tetapi sistem yang benar akan menghasilkan berat badan broiler yang lebih seragam.
            Pemberian pakan harus dimulai 30 menit setelah matahari terbit untuk memberikan semua ayam kesempatan untuk makan pada waktu yang sama. Program a-skip-a-day akan membuat pakan lebih tersedia pada setiap waktu makan dan memberi semua ayam kesempatan untuk makan. Jika pakan bervariasi dalam ukuran juga akan menyebabkan ”selective-feeding” yang menyebabkan sebagian ayam kelebihan lemak. Untuk itu, keseragaman bentuk dan ukuran pakan harus diperhatikan.
            Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penyebab ketidakseragaman berat badan pada broiler dapat diatasi oleh peternak. Pemeliharaan yang kurang baik akan menyebabkan ketidakseragaman yang kemudian dapat merugikan bagi peternak.  copy write by :Urip Santoso Ph.D., Dosen Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. POULTRY INDONESIA MARET 2000.   

Jumat, 22 Juni 2012

PENTINGNYA PERHITUNGAN FCR PADA BROILER

Feed Convertion Ratio (FCR) atau rasio konversi pakan merupakan satuan untuk menghitung efisiensi pakan pada budidaya pembesaran dan penggemukan.  Dengan menghitung FCR dari ayam broiler akan sangat membantu kita di dalam mengefisienkan pakan yang akan kita gunakan. Hasil perhitungan FCR dengan angka yang kecil berarti pakan yang diberikan tersebut semakin bagus.

Rumus menghitung FCR adalah jumlah pakan selama pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen.

Contoh perhitungan :

Diketahui populasi ayam sebanyak 1000 ekor, menghasilkan berat ayam 1,3 kg, dengan penggunaan pakan sebanyak 40 sak, maka FCR-nya adalah :
Diketahui ,
Populasi = 1000 ekor
Berat Ayam = 1,3
Banyaknya Pakan = 40 sak (1 sak = 50 kg) = 2000 kg
Ditanyakan, 
Berapa FCR-nya?
Penyelesaian,
Berat total ayam yang dipanen = 1000 X 1,3 = 1300 kg
Feed Convertion Ratio (FCR)  = 2000 / 1300 = 1,54
 

Kamis, 21 Juni 2012

PADA BROILER MODERN “FUNGSI PEMANAS = PRODUKTIVITAS”

(( Fungsi pemanas pada ayam potong adalah sangat penting sekali. Karena ayam potong adalah jenis ternak hasil bioteknologi yang sangat sarat dengan intervensi manusia di dalam kehidupannya. ))

Dalam situasi perekonomian yang sudah demikian mengglobal, di mana harga hasil produksi perunggasan yang tidak bisa diprediksi dan juga tidak bisa dikendalikan, maka salah satu untuk memenangi pertempuran adalah mengendalikan dan mengoptimalkan faktor internal budidaya.
Artinya jika faktor eksternal itu berada diluar kendali kita, maka peternak jika ingin meraup keuntungan, tidak lain harus mampu mengendalikan faktor internal. Yaitu pada aspek budidaya atau tatalaksana.
Salah satu dari banyak variabel faktor internal adalah memahami arti penting pemanas buatan bagi ayam potong modern. Jika selama ini banyak pihak yang kurang memahami keberadaan dan fungsi essensial pemanas buatan, maka paradigma dan asumsi itu harus segera ditinggalkan.
Mestinya keluhan DOC dan harga pakan mahal dan juga harga jual panen yang rendah harus dijadikan dasar pijak untuk menggenjot produktifitas yang optimal. Baik dari bobot maupun mortalitas.
Suhu lingkungan kandang bagi ayam potong modern, tidak bisa dianggap sepele dan justru harus dijadikan titik awal kesuksesan sebuah usaha budidaya. Menurut Pakar Kesehatan Unggas yang cukup populer, Drs Tony Unandar MSi, bahwa salah satu karakterisitik ayam potong modern adalah konversi pakan yang rendah dengan kecepatan pertumbuhan yang tinggi.
Dan yang paling penting adalah pertumbuhan bulu yang LAMBAT. Point terakhir ini mempunyai korelasi dengan suhu pemanas buatan pada saat awal pemeliharaan ayam. Hal ini terkait pula dengan sifat ayam potong modern yang lebih lambat beradaptasi dengan lingkungan.
Sebuah fakta lapangan yang tidak bisa dibantah, bahwa banyak peternak, sering meremehkan fungsi dan keberadaan pemanas buatan alias brooder pada budidaya pemeliharaan ayam potong (broiler).
Umumnya mereka menilai fungsi pemanas buatan tidak lebih sebagai penghangat anak ayam, sebagai pengganti induknya selama masa pertumbuhan. Maka setelah cukup umur, keberadaan pemanas itupun bisa ditiadakan.
Asumsi itu sebenarnya tidak salah, justru sangat tepat sekali. Namun jika kemudian penjelasannya tidak atas dasar fakta-fakta ilmiah justru menjadi boomerang. Hal itu tidak lain oleh karena dasar pijak penjelasan terlalu disederhanakan.
Menurut Tony bahwa fungsi pemanas pada ayam potong adalah sangat penting sekali. Karena ayam potong adalah jenis ternak hasil bioteknologi yang sangat sarat dengan intervensi manusia di dalam kehidupannya. Terlebih lagi, ayam potong sekarang adalah sudah sangat jauh berbeda dengan ayam potong 50 tahun yang lalu.
Jelas sudah bahwa sifat dan karakter genetik ayam potong saat ini sudah sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan ayam potong masa lalu. Tony bahkan lebih ekstrim menegaskan bahwa ayam potong saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan ayam potong 5 tahun yang lalu.
“Tidak sampai satu abad, dalam perbedaan karakteristik ayam potong, karena 5(lima) tahun yang lalu saja sudah sangat jauh berbeda dengan yang sekarang” jelas Tony. Oleh karena itu tidak bisa disamakan dalam hal pengelolaan dan budi dayanya. Mutlak adanya perubahan yang signifikan untuk bisa mencapai produktiftas yang optimal.
Tony mengibaratkan dalam strategi perang, maka tentunya ada jurus baru agar bisa memenangi sebuah pertempuran. Karena jika dengan jurus dan pola yang lama sudah pasti akan kalah dan tidak membawa hasil yang terbaik.
Adapun sasasan dalam pemeliharaan ayam pada era sekarang ini adalah menghasilkan ayam dengan”daya hidup” yang tinggi. Ini maknanya terus menekan angka mortalitas sekecil mungkin. Selain itu tidak hanya menghasilkan bobot yang ekstreem berat per induvidual, namun justru aspek keseragaman bobot sesuai dengan pola baku efisiensi yaitu konversi pakan yang rendah.
Pada ayam potong modern umur 4 minggu pertumbuhan bulu masih sangat sedikit, akan tetapi di pihak lain pertumbuhan otot sudah demikian pesat. Akibatnya jika fungsi dan keberadaan pemanas buatan tidak optimal, sudah pasti akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan. Termasuk dalam hal pertumbuhan organ-organ penting dalam kehidupannya seperti sistema pencernaan, sistema kekebalan tubuhnya.
Menurut Tony bahwa minggu pertama bagi ayam potong modern adalah sangat penting sekali. Oleh karena itu harus ada perhatian yang ekstra lebih pada saat umur itu, jika tidak ingin merugi. Suhu lingkungan menjadi sangat penting, karena pada akhir minggu pertama bobot harus mencapai 4 (empat) kali lipat dari bobot awal.
Sebagaimana sudah disinggung dimuka, bahwa kemampuan adaptasi yang rendah itu, harus disiasati. Point awal hal itu adalah pada faktor suhu lingkungan. Sebagaimana diketahui meski ayam termasuk hewan berdarah panas (homeothermal) tetapi ia adalah termasuk hewan peralihan dari hewan berdarah dingin ke hewan berdarah panas sejati (mamalia). Makanya ketika ayam habis menetas, thermoregulator / pengatur suhu badannya belum berfungsi.
Oleh karena itu fungsi pemanas buatan menjadi sangat penting sekali, karena bukan saja menjadi penghangat semata, akan tetapi panas itu juga berfungsi menstimulus fungsi-fungsi organ lain termasuk fungsi pengatur suhu bandannya. Adapun fungsi organ pengatur suhu badan ayam mulai berfungsi pada hari ke-7 dan efektif bekerja secara optimal pada umur 21 hari.
Atas dasar itu maka kesesuaian suhu lingkungan bagi ayam potong modern menjadi sangat penting. Dan variabel terciptanya suhu lingkungan yang ideal tidak hanya berasal dari pemanas buatan semata, akan tetapi ada aspek yang lain. Sebagai contohnya adalah ketebalan litter dan ventilasi kandang. Litter yang tipis akan menimbulkan panas yang cepat muncul dan juga sebaliknya akan cepat hilang jika ditiup angin kencang. Idealnya ketebalan litter menurut Tony adalah 8 cm.
Sedangkan ventilasi kandang akan sangat mempengaruhi suhu ideal di dalam kandang. Oleh karena itu tirai pengatur ventilasi harus diatur sedemikian rupa agar hembusan angin tidak menurunkan suhu lngkungan dalam kandang, tetapi juga tidak menyebabkan rendahnya kelembaban dan sirkulasi udara yang lambat bergerak.
Idealnya pemanas buatan dihidupkan 4-6 jam sebelum anak ayam (DOC) masuk ke dalam kandang. Suhu dan kelembaban pada umur dibawah 3 minggu adalah 30-35C dan 50-70%. Setelah umur lebih 3 minggu atau dewasa, suhu lingkungan 18 – 29.6 C dan kelembabannya juga 50-70%.
Untuk memeriksa apakah suhu lingkunga sesuai yang dibutuhkan ayam dapat dilihat dan diraba pada kaki, leher dan muka. Jika kaki teraba dingin, maka sangat mungkin litter terlalu tebal atau terlalu tipis. Solusi atur ketebalan litter.
Sebagaimana diungkapkan oleh Tony, bahwa arti pentingnya suhu lingkungan yang terukur pada litter di mana suhu optimal untuk produktiftas ayam potong modern adalah berkisar 30-32C. Pada suhu itu konversi pakan berkisar 1.46-1.47 dengan pertambahan berat badan (ADG) 53.0-53.6 gram. Sedangkan jika suhu pada litter berkisar 20-24C konversi pakan cukup tinggi yaitu mencapai 1.50-1,52 dengan ADG 50,0-51,2 gram.
Jika suhu litter dingin maka akan menyebabkan konversi pakan buruk, pertumbuhan buruk dan juga tidak seragamnya pertumbuhan dalam populasi. Oleh karena itu Tony menyarankan agar jangan mengandalkan pada alat ukur suhu yang terdapat pada kandang saja akan tetapi harus memeriksa secara sampling ayam pada kaki , leher dan muka. Sebab ayam membutuhkan suhu lingkungan yang effektif atau yang benar-benar dirasakan oleh ayam dalam rangka untuk pertumbuhan dan produktifitasnya.
Akhirnya bahwa masalah temperatur lingkungan begitu penting bagi pertumbuhan, kesehatan dan juga produktifitas ayam itu.
tag from: majalah infovet tgl 22 juni 2011

Persiapan Kandang

Persiapan Kandang   |
Masa persiapan kandang mempunyai andil yang besar terhadap keberhasilan pemeliharaan ayam. Kegagalan pada masa pemeliharaan ini akan mengakibatkan peningkatan ancaman serangan bibit penyakit.
Saat kondisi kandang yang kotor, konsentrasi atau tantangan bibit penyakit dalam kandang meningkat. Kondisi ini akan memperlebar peluang ayam terinfeksi atau terserang penyakit. Dan kebalikannya, saat kondisi kandang bersih dan telah didesinfeksi maka konsentrasi bibit penyakit akan menurun sehingga tantangan bibit penyakit berkurang dan ayam aman dari infeksi atau serangan penyakit.

Setelah Ayam Meninggalkan Kandang

Saat ayam diafkir atau dipanen, di dalam kandang akan tertinggal sisa-sisa pemeliharaan ayam, baik kotoran, debu maupun bulu. Tak tertinggal juga, sejumlah besar bibit penyakit yang pada periode sebelumnya telah menyertai keberadaan ayam.

Kondisi kandang setelah ayam diafkir atau dipanen relatif kotor dan banyak terkontaminasi oleh bibit penyakit
Ayam seluruhnya telah meninggalkan kandang, begitu juga seharusnya sisa-sisa pemeliharaan ayam tersebut. Oleh karena itu kita perlu melakukan beberapa manajemen pembersihan dan desinfeksi kandang agar kandang sebisa mungkin kembali pada kondisi semula, baik dari struktur (kondisi fisik) maupun fungsinya.
Kotoran ayam menumpuk di setiap sudut kandang, bulu-bulu ayam juga merata di seluruh bagian kandang. Tak ketinggalan juga debu banyak berterbangan di dalam dan sekitar kandang. Kondisi ini tentu menjadi media yang baik sebagai tempat persembunyian dan perkembangan bibit penyakit.
Perlu menjadi pemahaman kita bersama, saat kondisi kandang dan lingkungannya kotor, bibit penyakit akan bertahan lebih lama. Terlebih lagi ada bahan organik, seperti feses yang bisa menjadi media bibit penyakit untuk tetap hidup.
Bibit penyakit memiliki kemampuan bertahan dalam jangka waktu yang bermacam-macam (tabel 1). Hal ini perlu kita perhatikan agar saat proses pembersihan dan pendesinfeksian kandang kita lakukan dengan sepenuhnya.
Tabel 1. Daya Tahan Bibit Penyakit di Luar Tubuh Ayam

Perlakuan Kandang Kotor

Fokus keberhasilan manajemen pembersihan dan desinfeksi kandang ini ialah jumlah bibit penyakit yang berada di dalam kandang dapat dikurangi atau diminimalkan. Kenapa bukan dihilangkan (sterilisasi)? Sterilisasi bukan istilah yang tepat digunakan untuk aktivitas tersebut, mengingat kondisi kandang yang tidak bisa terkendali secara penuh, misalnya saja aliran udara yang tidak bisa dikendalikan akan mengakibatkan bibit penyakit selalu ada di dalam kandang. Oleh karena itu, istilah yang digunakan dalam manajemen pembersihan kandang ialah sanitasi dan desinfeksi.
Tahapan penanganan kandang kotor antara lain :
  • Keluarkan dan bersihkan sisa kotoran (feses dan sisa litter)
Sisa kotoran ayam, baik berupa feses, sisa litter, bulu maupun debu hendaknya dikeluarkan dari kandang dengan cara disapu. Setelah itu, lakukan penyemprotan air bertekanan dengan memakai jetspray. Pastikan semua bagian kandang tersemprot oleh jetspray.
Gunakan jetspray untuk membersihkan sisa kotoran ayam di sela-sela dinding atau lantai
Penggunaan jetspray ini akan memudahkan kita untuk menghilangkan sisa feses yang berada di sela-sela dinding atau lantai secara optimal. Selain itu, pemakaian jetspray ini akan mempercepat proses pembersihan kandang dengan hasil yang lebih optimal.
Seringkali yang menjadi permasalahan ialah masih adanya sisa feses yang berada di bagian ini. Jika tidak dihilangkan maka bisa dipastikan siklus bibit penyakit akan selalu berlangsung dan bibit penyakit selalu berada di dalam kandang. Adanya sisa feses ini menjadi tempat persembunyian bibit penyakit dan daya kerja desinfektan membasmi bibit penyakit yang berada di sisa feses ini menjadi tidak optimal.

Sisa feses yang berada di sela-sela lantai kandang akan menyebabkan bibit penyakit selalu berada di dalam kandang
Membersihkan lantai dengan cara menggosok menggunakan sabun juga perlu dilakukan. Feses ayam memiliki lapisan lemak atau minyak sehingga saat menempel di lantai kandang sulit dihilangkan jika hanya menggunakan air. Oleh karena itu diperlukan pemakaian sabun yang mampu melarutkan minyak tersebut. Pembersihan dengan sabun ini juga sekaligus sebagai cara untuk menghilangkan kotoran yang masih tersisa dari penyemprotan dengan menggunakan jetspray.
Proses pembersihan dengan sabun akan memastikan lapisan lemak atau minyak dari feses ayam hilang
Setelah penyabunan, kandang hendaknya disemprot dengan air lagi kemudian dikeringkan. Sabun yang masih tersisa dapat menurunkan potensi beberapa jenis desinfektan, terutama yang mengandung zat aktif dari golongan ammonium quartener (Medisep atau Mediklin).
  • Penyemprotan desinfektan
Penyemprotan desinfektan (desinfeksi, red) bertujuan membasmi bibit penyakit yang masih tersisa di dalam kandang, baik di lantai maupun udara kandang. Penyemprotan desinfektan yang pertama sebaiknya dilakukan dengan optimal, dimana seluruh bagian kandang harus basah atau terkena cairan desinfektan. Perlu diketahui, desinfektan hanya akan bekerja jika kontak dengan bibit penyakit. Oleh karena itu, penyemprotan desinfektan yang pertama kali sebaiknya menggunakan jetspray. Dengan demikian cairan desinfektan dapat masuk ke pori-pori dinding atau lantai kandang.
Desinfektan yang bisa digunakan antara lain Formades, Sporades, Mediklin, Medisep, Antisep atau Neo Antisep. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat penggunaan desinfektan :
  • Jenis bibit penyakit
Tidak semua bibit penyakit dapat dibasmi oleh desinfektan, oleh karenanya pemilihan desin-fektan harus dilakukan secara tepat. Contohnya ialah virus yang tidak memiliki amplop (non enveloped), seperti virus Gumboro, Egg drop syndrome (EDS) dan reovirus tidak dapat dibasmi oleh desinfektan dari golongan ammonium chloride (quats) seperti Medisep atau Mediklin. Hal ini dikarenakan mekanisme kerja dari desinfektan golongan quats ialah merusak dinding sel sehingga mengurangi permeabilitas dinding sel dan akhirnya bibit penyakit mati. Virus yang tidak memiliki amplop tidak memiliki dinding sel sehingga desinfektan golongan quats tidak bisa membasminya.
    1. Materi organik
Materi organik, seperti sisa feses dan lendir juga dapat menurunkan kerja desinfektan. Materi organik ini akan menghalangi kontak antar desinfektan dan bibit penyakit. Akibatnya daya kerja desinfektan cenderung menurun, terlebih lagi desinfektan dari golongan klorin, iodine (Antisep, Neo Antisep) dan quats (Medisep, Mediklin). Disinilah pentingnya melakukan pembersihan kandang dengan menghilangkan semua bahan organik yang ada.
    2. pH
Potent of hydrogen atau tingkat keasaman air yang digunakan untuk melarutkan desinfektan juga berpengaruh terhadap daya kerja desinfektan. Desinfektan golongan iodine dan kaporit akan bekerja optimal di suasana asam-netral (pH 4-7) dan golongan quats dan glutaraldehyde akan berfungsi optimal saat dilarutkan dalam air dengan pH basa - netral. Melihat karakteristik itu, maka alangkah baiknya jika kita menggunakan air dengan pH netral untuk melarutkan desinfektan sehingga semua jenis desinfektan dapat bekerja dengan optimal.
    3. Tingkat kesadahan
Tingkat kesadahan ditentukan dari kandungan ion Ca2+, Mg2+ atau Fe3+ dalam air tersebut. Semakin tinggi kandungan ion-ion itu, semakin tinggi juga tingkat kesadahan air. Sama halnya pada obat, pelarutan desinfektan dalam air dengan tingkat kesadahan yang tinggi akan mengakibatkan penurunan potensi desinfektan, utamanya desinfektan dari golongan quats dan iodine. Saat dilarutkan dalam air sadah, desinfektan itu akan diikat oleh ion-ion tersebut, akibatnya daya kerjanya menurun.
Indikasi yang menunjukkan air memiliki tingkat kesadahan yang tinggi ialah saat dilarutkan sabun atau detergen dalam air itu tidak akan terbentuk busa. Guna memastikan tingkat kesadahan air sebaiknya dilakukan pengujian di laboratorium dan Medion memiliki fasilitas ini.
Penyemprotan desinfektan hendaknya dilakukan di seluruh bagian kandang, baik lantai, dinding, atap maupun udara dalam kandang. Perlu dipastikan semua bagian kandang terkena dan basah oleh cairan desinfektan agar bibit penyakit yang mencemari kandang berkurang.
Hasil trial penyemprotan Formades dan Sporades pada dinding dan udara dalam kandang yang dilakukan dengan teknik swap
Penanganan kandang kotor tidak hanya dilakukan pada kandangnya saja, tetapi juga peralatan dan lingkungan kandang. Peralatan kandang seperti tempat ransum, tempat minum, tirai, brooder (Indukan Gas Medion [IGM]), chick guard dalam peralatan yang lainnya hendaknya dibersihkan, didesinfeksi dan diperiksa keoptimalan kerja dan fungsinya.

Tempat makan dan tempat minum harus dibersihkan dan didesinfeksi sebelum digunakan kembali
Tempat makan dan minum dicuci sampai bersih kemudian didesinfeksi dengan cara direndam dalam larutan desinfektan selama 30 menit. Desinfektan yang biasanya digunakan ialah Medisep (15 ml tiap 10 liter air). Setelah itu, dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. Kami menyarankan untuk pengeringan sebaiknya tidak dilakukan di bawah sinar matahari langsung karena bisa mempercepat kerusakan peralatan itu.
Kondisi atau kelayakan peralatan juga perlu diperiksa. Pastikan semua peralatan dapat berfungsi secara optimal. Pastikan IGM dapat bekerja dengan baik dalam menghasilkan panas bagi DOC, jangan sampai saat akan digunakan IGM mengalami masalah. Kondisi ini akan menyebabkan ayam stres sehingga pertumbuhannya terhambat.
Biofilm menjadi tempat persembunyian bibit penyakit yang aman dan bisa menghambat kerja desinfektan membasmi bibit penyakit
Demikian juga dengan tempat minum, ganti piringan tempat minum yang sudah pecah agar air minum tidak membasahi lantai kandang sehingga memicu peningkatan kadar amonia. Pada pemakaian Tempat Minum Ayam Otomatis (TMAO) atau ND-360 (nipple drinker) lakukan pembersihan saluran air atau paralon dengan cara flushing. Flushing bisa diartikan sebagai teknik pembersihan dengan menyemprotkan air bertekanan. Namun, jika lapisan biofilm (sisa obat, vitamin dan vaksin yang menempel pada dinding paralon) telah terbentuk lama dan menjadi kerak maka perlu penambahan zat kimia tertentu untuk menghilangkannya. Zat kimia ini antara lain hidrogen peroksida (H2O2) (10%), ozon (1-2 mg/l) atau asam sitrat (10 ml/l). Flushing hendaknya dilakukan secara rutin setelah pemberian vitamin, obat atau vaksin melalui air minum. Namun jika tidak memungkinkan maka minimal dilakukan saat proses persiapan kandang.
Selain saluran air, pembersihan dan desinfeksi juga dilakukan pada tempat penampungan air minum, baik torn di masing-masing kandang maupun water ground. Perlu kita perhatikan, saat desinfeksi tempat dan penampungan air minum hendaknya dipilih desinfektan yang aman bagi ayam, seperti Medisep, Neo Antisep atau Antisep.
Rumput yang berada di sekitar kandang perlu dirapikan agar tidak menjadi sarang nyamuk maupun insekta lainnya

Selokan yang bersih dan aliran lancar akan meminimalkan sarang atau tempat berkembang biak nyamuk
Kondisi lingkungan kandang juga perlu diperhatikan. Rumput atau semak-semak yang tumbuh di sekitar kandang harus dikontrol jangan sampai tumbuh secara liar karena bisa menjadi tempat persembunyian nyamuk, lalat maupun insekta lainnya. Rumput hendaknya dipotong atau dirapikan. Selokan dibersihkan sehingga aliran airnya lancar. Genangan air diselokan akan menjadi media yang cocok untuk perkembangan nyamuk yang menjadi agen atau vektor penularan penyakit malaria like atau malaria unggas.

Perbaikan Kandang

Kondisi kandang juga perlu mendapatkan perhatian saat masa persiapan kandang. Kandang merupakan tempat tinggal ayam dan kandang yang baik tentu harus nyaman.
Kondisi atap, dinding maupun lantai harus dikontrol. Saat ditemukan kerusakan pada salah satu bagian kandang tersebut perlu segera dilakukan perbaikan.
Atap yang bocor dan lantai yang rusak berlubang hendaknya diperbaiki saat masa persiapan kandang
Kondisi tanah di bawah kandang yang berperan menyerap air dari feses juga perlu diberikan perlakuan khusus, seperti penambahan kapur. Selain membunuh bibit penyakit, penambahan kapur ini juga dapat mengembalikan pH tanah menjadi netral dan juga meningkatkan daya serap tanah terhadap air.

Kandang Diistirahatkan

Setelah kandang dibersihkan dan didesinfeksi seluruhnya, tiba saatnya kandang diistirahatkan untuk beberapa waktu. Secara umum, masa istirahat kandang hendaknya tidak kurang dari 14 hari. Bahkan saat terjadi kasus, misalnya serangan Gumboro maka masa istirahat kandang diperpanjang. Tujuannya agar bibit penyakit yang berada di kandang bisa dikurangi secara optimal.
Saat istirahat kandang sebaiknya tidak ada aktivitas di dalam dan sekitar kandang atau minimal aktivitas pekerja keluar masuk dibatasi. Pintu dan tirai kandang ditutup. Hanya saja kita sering lupa meski kandang dalam masa istirahat namun lalu lintas kendaraan yang keluar masuk lokasi peternakan kurang terkontrol. Anggapannya di kandang sedang tidak ada ayam, makanya mobil yang keluar masuk tidak dibatasi dan didesinfeksi.
Sebuah dilematis tentunya, selama istirahat kandang ini, peternak atau pekerja kandang untuk sementara waktu menganggur dan tidak memperoleh pendapatan. Oleh karenanya ada beberapa peternak yang mempersingkat masa istirahat kandang dengan dalih ingin mengejar produksi. Perlu kita ingat, masa istirahat kandang yang lebih singkat ini akan membawa konsekuensi bibit penyakit belum sepenuhnya berkurang. Dengan demikian, saat manajemen pemeliharaan harus dilakukan dengan lebih ketat, terutama proses biosecurity atau penyemprotan kandang.

Inspeksi Kesiapan Kandang

Inspeksi kesiapan kandang dirasa perlu dilakukan untuk memastikan kondisi kandang benar-benar siap menerima kedatangan ayam. Inspeksi ini biasanya dilakukan 1 minggu sebelum chicks in. Aspek kesiapan yang perlu diinspeksi diantaranya :
  • Kebersihan kandang
Kebersihan menjadi aspek yang pertama kali perlu diamati saat melakukan inspeksi kesiapan kandang. Jika kandang masih kotor, misalnya masih terdapat sisa feses atau litter yang menempel pada lantai kandang dengan sebaran yang cukup banyak maka hendaknya dilakukan pembersihan dan desinfeksi ulang. Bahkan di salah satu farm di Jakarta Timur jika ditemukan hal itu diputuskan untuk mengundur jadwal chick in pada kandang itu.Adanya sisa feses di lantai kandang bisa menjadi sumber penyakit untuk ayam yang akan dipelihara
  • Keadaan kandang
Inspeksi keadaan kandang ini lebih diarahkan pada struktur kandang. Apakah masih ada atap yang bocor, lantai yang jebol atau dinding yang rusak? Kekokohan kandang juga harus kita perhatikan. Selain itu, tanah yang berada di bawah lantai kandang panggung juga perlu diperik-sa apakah masih ada sisa feses.
  • Kesiapan peralatan
Peralatan kandang seperti tempat ransum, tempat minum, tirai maupun pemanas juga harus diinspeksi baik kebersihan maupun fungsinya. Jumlah tempat minum dan ransum juga harus diperhatikan. Selain itu, bahan litter sebaiknya telah disiapkan di dalam kandang.

Kondisi lingkungan kandang
Jika ada rumput atau semak-semakan yang masih tumbuh liar di sekitar kandang maka perlu dilakukan pemotongan. Saluran air juga perlu dicek kembali untuk memastikan aliran air pembuangan lancar.
Jika diperlukan bisa dibuat form khusus untuk keperluan inspeksi ini. Hasil inspeksi ini dijadikan dasar kita untuk menentukan siap tidaknya kandang menerima DOC.
Setelah dinyatakan kandang siap menerima DOC maka persiapan selanjutnya ialah membuat kandang brooding. Peralatan juga mulai dipasang dimasing-masing kandang brooding. Litter yang telah didesinfeksi mulai dihamparkan di dalam kandang.
Desinfeksi kandang ulang (desinfeksi ke-2) juga perlu dilakukan. Desinfeksi ke-2 ini bisa dilakukan dengan teknik semprot halus atau pengasapan (fogging). Desinfeksi ulang ini bisa dilakukan 3 hari sebelum chicks in.
Proses persiapan kandang yang meliputi pembersihan dan desinfeksi peralatan, kandang maupun lingkungannya hendaknya kita lakukan dengan optimal. Mengingat proses pembersihan dan desinfeksi kandang yang optimal akan menurunkan konsentrasi bibit penyakit. Dan juga kondisi kandang yang nyaman dan peralatan yang optimal sangat diperlukan bagi ayam untuk mengoptimalkan potensi genetik yang dibawanya, yaitu pertumbuhan berat badan atau produksi telur secara optimal. Keberhasilan awal sangat mendukung produktivitas ayam.

Info Medion Edisi Mei 2009
Tag from : Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

Sekilas Breeding Farm

Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket