ANDA KESULITAN MENDAPATKAN DOC DI JAWA, KAMI SIAP MEMBERI SOLUSI MENYEDIAKAN DOC DARI LUAR PULAU,
TERSERDIA :
DOC BROILER CP DARI BALIKPAPAN DAN BANJARMASIN.
DOC PEJANTAN DARI MEDAN.
Tampilkan postingan dengan label Toko Online. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Toko Online. Tampilkan semua postingan
Kamis, 07 Februari 2013
Rabu, 09 Januari 2013
Virus Flu Burung Bisa Menular dari Itik ke Manusia
Jakarta, Kompas - Flu burung yang menyerang itik bisa menular ke manusia. Virus itu sudah menjangkiti delapan orang di China, Hongkong, dan Banglades, tiga orang di antaranya meninggal. Kasus itu terjadi sejak tahun 2009. Meski demikian, penularan virus H5N1 subkelompok 2.3.2 ke manusia belum ditemukan di Indonesia.
”Angka kematian manusia di dunia akibat virus flu burung subkelompok 2.3.2 sebesar 37,5 persen,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, di Jakarta, Rabu (9/1).
Tingkat kematian itu lebih rendah dibandingkan kematian manusia akibat virus H5N1 subkelompok 2.1.3 yang menyerang ayam. Kematian manusia akibat virus ini pada 2003-2012 mencapai 59 persen.
Ketua Panel Ahli Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis Amin Soebandrio mengatakan, penularan virus flu burung ke manusia ditentukan oleh keganasan virus, jumlah virus yang menginfeksi, serta kekebalan tubuh seseorang. ”Orang-orang yang terpapar virus dari sumber yang sama belum tentu semua terkena flu burung,” katanya.
Tjandra menambahkan, penularan virus dari hewan hingga menimbulkan sakit pada manusia juga ditentukan lamanya kontaminasi dengan virus, kebiasaan menjaga kebersihan diri, serta sanitasi lingkungan.
Gejala flu burung pada manusia, baik akibat virus subkelompok 2.3.2 maupun 2.1.3, sama. Gejalanya antara lain demam tinggi secara tiba-tiba, batuk, pilek, dan sesak napas.
Gejala awal, kata Amin, mirip penyakit lain akibat virus dan tidak spesifik. Karena itu, banyak dokter yang mendiagnosis gejala itu sebagai penyakit tifus atau demam berdarah dengue.
Kecurigaan adanya flu burung biasanya muncul jika pasien memiliki riwayat berhubungan dengan unggas. Namun, sejumlah kasus terakhir menunjukkan flu burung juga muncul pada orang yang riwayat kontaknya dengan unggas sulit ditelusuri. Karena itu, tim medis dan keluarga perlu mewaspadai gejala mirip tifus atau demam berdarah dengue terkait kemungkinan flu burung.
Untuk mencegah penularan virus flu burung ke manusia, Tjandra mengimbau masyarakat menghindari kontak langsung dengan itik atau produknya, terutama itik sakit. Jika terpaksa berhubungan, seperti peternak itik, usahakan menggunakan alat pelindung, seperti masker dan sarung tangan. Setelah menjamah itik atau produknya, cuci tangan dan baju dengan sabun.
Koordinator Unit Pengendali Penyakit Avian Influenza Pusat Kementerian Pertanian M Azhar menambahkan, unggas sebaiknya dikandangkan. Kandang harus terpisah dari rumah dan dibersihkan secara berkala. Selain itu, unggas yang berbeda jenis jangan dikandangkan bersama- sama untuk menghindari penularan virus ke unggas lain.
Meski demikian, Azhar meminta masyarakat tidak khawatir mengonsumsi daging dan telur itik. Virus akan mati apabila produk dimasak dengan suhu tinggi. Namun, bukan berarti masyarakat boleh memperdagangkan atau mengonsumsi itik yang sakit.
Itik sakit atau yang memiliki gejala terserang flu burung harus dimusnahkan dengan cara dibakar kemudian dikubur. Pemusnahan juga harus dilakukan pada itik lain di sekitar itik yang menderita flu burung. Teoretisnya pada itik dalam radius 1 kilometer.
Gejala itik terserang flu burung antara lain leher terputar, kejang, sulit berdiri, nafsu makan kurang, dan mata keputihan. Untuk itik petelur, produksi telurnya tiba-tiba menurun.
Menyebar
Sejak ditemukan pada Oktober 2012 hingga Selasa (8/1), virus flu burung subkelompok 2.3.2 telah menyebar di 69 kabupaten/kota di 11 provinsi. Virus itu sudah menyebabkan 242.000 itik mati di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Bali. Padahal, pada 26 Desember virus itu baru menewaskan 150.000 itik di 50 kabupaten/kota di sembilan provinsi.
Deputi Bidang Koordinasi Kesehatan, Kependudukan, dan Keluarga Berencana pada Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Emil Agustiono mengatakan, buruknya kontrol lalu lintas perdagangan itik antardaerah dan antarpulau membuat flu burung pada itik cepat menyebar.
Petugas dinas perhubungan dan balai veteriner di daerah memiliki wewenang memeriksa unggas yang masuk ke suatu daerah. ”Jika pengawasan lalu lintas unggas bagus, harusnya tidak menyebar secepat ini,” katanya.
Azhar menambahkan, virus flu burung pada itik bisa berpindah ke unggas lain, seperti entok dan ayam kampung. Virus ditularkan melalui ingus dan kotoran itik. Virus ini bisa terbawa oleh udara dan air hingga menular ke mana-mana. Jika virus ini menular ke ternak ayam komersial, kerugian ekonominya dipastikan sangat tinggi.
Makin banyaknya variasi virus flu burung yang menyerang berbagai unggas, pemerintah dipastikan makin sulit mengendalikan. Terlebih lagi jika virus sudah menular ke manusia. Tak hanya merugikan ekonomi, kata Emil, hal ini bisa mengancam ketahanan negara. (MZW)
”Angka kematian manusia di dunia akibat virus flu burung subkelompok 2.3.2 sebesar 37,5 persen,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, di Jakarta, Rabu (9/1).
Tingkat kematian itu lebih rendah dibandingkan kematian manusia akibat virus H5N1 subkelompok 2.1.3 yang menyerang ayam. Kematian manusia akibat virus ini pada 2003-2012 mencapai 59 persen.
Ketua Panel Ahli Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis Amin Soebandrio mengatakan, penularan virus flu burung ke manusia ditentukan oleh keganasan virus, jumlah virus yang menginfeksi, serta kekebalan tubuh seseorang. ”Orang-orang yang terpapar virus dari sumber yang sama belum tentu semua terkena flu burung,” katanya.
Tjandra menambahkan, penularan virus dari hewan hingga menimbulkan sakit pada manusia juga ditentukan lamanya kontaminasi dengan virus, kebiasaan menjaga kebersihan diri, serta sanitasi lingkungan.
Gejala flu burung pada manusia, baik akibat virus subkelompok 2.3.2 maupun 2.1.3, sama. Gejalanya antara lain demam tinggi secara tiba-tiba, batuk, pilek, dan sesak napas.
Gejala awal, kata Amin, mirip penyakit lain akibat virus dan tidak spesifik. Karena itu, banyak dokter yang mendiagnosis gejala itu sebagai penyakit tifus atau demam berdarah dengue.
Kecurigaan adanya flu burung biasanya muncul jika pasien memiliki riwayat berhubungan dengan unggas. Namun, sejumlah kasus terakhir menunjukkan flu burung juga muncul pada orang yang riwayat kontaknya dengan unggas sulit ditelusuri. Karena itu, tim medis dan keluarga perlu mewaspadai gejala mirip tifus atau demam berdarah dengue terkait kemungkinan flu burung.
Untuk mencegah penularan virus flu burung ke manusia, Tjandra mengimbau masyarakat menghindari kontak langsung dengan itik atau produknya, terutama itik sakit. Jika terpaksa berhubungan, seperti peternak itik, usahakan menggunakan alat pelindung, seperti masker dan sarung tangan. Setelah menjamah itik atau produknya, cuci tangan dan baju dengan sabun.
Koordinator Unit Pengendali Penyakit Avian Influenza Pusat Kementerian Pertanian M Azhar menambahkan, unggas sebaiknya dikandangkan. Kandang harus terpisah dari rumah dan dibersihkan secara berkala. Selain itu, unggas yang berbeda jenis jangan dikandangkan bersama- sama untuk menghindari penularan virus ke unggas lain.
Meski demikian, Azhar meminta masyarakat tidak khawatir mengonsumsi daging dan telur itik. Virus akan mati apabila produk dimasak dengan suhu tinggi. Namun, bukan berarti masyarakat boleh memperdagangkan atau mengonsumsi itik yang sakit.
Itik sakit atau yang memiliki gejala terserang flu burung harus dimusnahkan dengan cara dibakar kemudian dikubur. Pemusnahan juga harus dilakukan pada itik lain di sekitar itik yang menderita flu burung. Teoretisnya pada itik dalam radius 1 kilometer.
Gejala itik terserang flu burung antara lain leher terputar, kejang, sulit berdiri, nafsu makan kurang, dan mata keputihan. Untuk itik petelur, produksi telurnya tiba-tiba menurun.
Menyebar
Sejak ditemukan pada Oktober 2012 hingga Selasa (8/1), virus flu burung subkelompok 2.3.2 telah menyebar di 69 kabupaten/kota di 11 provinsi. Virus itu sudah menyebabkan 242.000 itik mati di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Bali. Padahal, pada 26 Desember virus itu baru menewaskan 150.000 itik di 50 kabupaten/kota di sembilan provinsi.
Deputi Bidang Koordinasi Kesehatan, Kependudukan, dan Keluarga Berencana pada Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Emil Agustiono mengatakan, buruknya kontrol lalu lintas perdagangan itik antardaerah dan antarpulau membuat flu burung pada itik cepat menyebar.
Petugas dinas perhubungan dan balai veteriner di daerah memiliki wewenang memeriksa unggas yang masuk ke suatu daerah. ”Jika pengawasan lalu lintas unggas bagus, harusnya tidak menyebar secepat ini,” katanya.
Azhar menambahkan, virus flu burung pada itik bisa berpindah ke unggas lain, seperti entok dan ayam kampung. Virus ditularkan melalui ingus dan kotoran itik. Virus ini bisa terbawa oleh udara dan air hingga menular ke mana-mana. Jika virus ini menular ke ternak ayam komersial, kerugian ekonominya dipastikan sangat tinggi.
Makin banyaknya variasi virus flu burung yang menyerang berbagai unggas, pemerintah dipastikan makin sulit mengendalikan. Terlebih lagi jika virus sudah menular ke manusia. Tak hanya merugikan ekonomi, kata Emil, hal ini bisa mengancam ketahanan negara. (MZW)
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Asep Candra
Selasa, 23 Oktober 2012
Baby Chick Feeder” : Alternatif lain menekan BEP
“Baby Chick Feeder” : Alternatif lain menekan BEP
Oleh : Sopyan Haris *
Estimasi baca : 5 menit
Kreatifitas adalah “menu” yang tidak boleh hilang dalam persaingan dalam bisnis apapun. Tak terkecuali dalam Budidaya Ayam Broiler maupun Ayam Petelur.
Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat dalam Budidaya Ayam Broiler, usaha menekan biaya produksi merupakan salah satu faktor yang tidak boleh diabaikan. Dan telah disadari bersama bahwa lebih dari 70% biaya produksi dipengaruhi oleh harga pakan. Sayangnya masih selalu terjadi pemborosan pakan akibat pakan yang tumpah atau pakan yang kotor akibat tercampur dengan litter maupun kotoran.
Selama masa brooding, tanpa disadari bahwa pakan yang terbuang akibat pakan kotor tercampur litter dan kotoran merupakan faktor yang sangat mempengaruhi performance akhir broiler. Andaipun tercatat pakan yang dihabiskan dalam 7 hari pertama adalah 190gr/ekor, tetapi pada kenyataannya lebih dari 10% adalah terbuang. Bila 190gr tersebut benar-benar dikonsumsi ayam maka berat badan umur 7 hari akan sangat baik dan performance akhir panen mendapat FCR dan IP yang bagus.
Jumat, 19 Oktober 2012
Senin, 17 September 2012
Menciptakan Broiler yang Seragam
Ketidakseragaman
berat badan akan meningkatkan biaya produksi sehingga menurunkankan
pendapatan peternak. Ada cara praktis untuk mendapatkan broiler yang
seragam.
Tujuan
memelihara broiler adalah mendapatkan produktivitas yang tinggi serta
menghasilkan berat badan yang dikehendaki pasar. Untuk mencapainya,
seorang peternak harus berupaya agar broiler yang dipelihara sebagian
besar mempunyai berat badan yang ideal pada umur pasar. Dengan demikian
perlu diciptakan broiler yang mempunyai berat badan yang seragam.
Sebagai
contoh, kerugian yang akan dialami oleh peternak jika berat badan
broiler sangat bervariasi antara lain adalah produksi broiler setiap
kandangnya menjadi berkurang, sementara biaya produksinya tetap. Hal ini
tentu saja akan memperkecil keuntungan yang diperolehnya. Bervariasinya
berat badan ini akan menghasilkan bervariasinya berat karkas atau
daging yang diproduksi. Selain itu, konsumen cukup selektif dalam
memilih karkas broiler. Mereka menyukai broiler/karkas
broiler dengan berat tertentu. Oleh karena itu, bervariasinya berat
badan akan berakibat tertundanya pemasaran yang berarti meningkatnya
biaya produksi, atau lebih celakanya terpaksa dijual dengan murah.
Dibawah ini diberikan petunjuk praktis cara-cara membuat broiler seragam.
Memelihara betina atau jantan saja
Secara
umum berat badan broiler jantan dan betina berbeda. Oleh karena itu,
memelihara broiler secara terpisah sangat dianjurkan untuk menciptakan
keseragaman. Namun, hal ini tampaknya sulit dilaksanakan mengingat
industri bibit saat ini menjualnya secara mixed.
Membeli DOC yang seragam
Jika
memungkinkan, peternak hendaknya membeli DOC yang berat badannya
seragam. Hal ini tentu saja memerlukan kerja sama dengan industri bibit,
dimana industri bibit selalu menyediakan bibit yang relatif seragam.
DOC segera diberi minum
Setelah
perjalanan jauh yang ditempuh DOC, maka segera setelah sampai
dikandang, DOC diberi air minum elektrolit dan energi. Pemberian air
minum dilakukan untuk mencegah kehilangan air tubuh, sehingga kehilangan
berat badan dapat dicegah. Pemberian energi, elektrolit dan vitamin
juga dilakukan untuk mengganti elektrolit yang hilang, sedangkan energi
yang diberikan sebagai sumber tenaga. Jika hal ini dilakukan, maka
kehilangan berat badan dapat dicegah dan DOC mempunyai kesehatan yang
optimal. Untuk memungkinkan semua DOC minum, maka segera setelah tiba,
setiap DOC dituntun untuk minum, dan tambahkan jumlah air minum normal
sebesar 50-100% selama 4-5 jam. Pakan dapat diberikan setelah periode
ini.
Jika DOC terlambat minum air dalam waktu beberapa hari dapat terlihat ketidakseragaman.
Jumlah tempat pakan dan minum
Jumlah
tempat pakan dan tempat air minum yang terlalu sedikit akan membuat
ternak tidak mendapat makan dan minum secara merata. Ketidakmerataan ini
dapat menyebabkan ketidakseragaman berat pasar. Hal ini tentu saja
dapat menurunkan produksi ayam per kandangnya, yang berakibat langsung
menurunkan keuntungan yang diperoleh peternak.
Biasanya
peternak memberi tempat pakan sebanyak 20 buah untuk 1000 ekor. Hal ini
tentunya untuk 1 tempat pakan diperuntukkan bagi 50 ekor ayam dewasa.
Padahal kapasitas satu tempat pakan hanya berkisar antara 12-17 ekor.
Oleh karena itu tidak mengherankan jika terjadi variasi berat badan yang
sangat lebar, yang artinya rendahnya keseragaman. Demikian pula
kebutuhan tempat air minum, dapat menyebabkan ayam tidak minum secara
serempak. Oleh karena itu untuk 1000 ekor ayam dewasa, membutuhkan 60
buah tempat minum.
Pakan/ransum
Pakan
yang dicampur secara tidak merata dapat menyebabkan ketidakseragaman
berat pasar ayam. Hal ini dikarenakan ayam tidak menerima zat gizi yang
merata. Dengan kata lain, mungkin terdapat ayam yang menderita zat gizi
yang berlebihan dan adapula yang kekurangan. Bentuk butiran yang terlalu
besar dengan bahan pakan lainnya, karena ayam cenderung memilih butiran
yang besar.
Untuk
menghindari hal ini, maka pakan-pakan dibuat pelet. Dengan pelet ayam
mau tidak mau akan memakan pakan tersebut tanpa bisa memilih.
Suhu kandang
Telah
diketahui suhu bahwa suhu lingkungan dapat mempengaruhi pertumbuhan
ayam. Pada saat anak ayam masih memerlukan panas tambahan, maka
seyogyanya ayam mendapat panas tambahan yang merata. Untuk itu, indukan
harus diberikan cukup. Sebagai contoh anak ayam mendapat panas
berlebihan, akan dapat menurunkan nafsu makan yang berarti anak ayam
kurang mendapat gizi yang cukup. Suhu yang terlalu panas akan mengganggu
proses metabolisme dalam tubuh. Demikian pula jika anak ayam kurang
nyaman, dapat mengganggu proses metabolisme yang dapat menimbulkan
abnormalitas.
Demikian
pula jika salah letak posisi kandang, misalnya sebagian kandang yang
lain terlindung dengan sinar matahari, hal ini tentunya menyebabkan
perbedaan suhu dan kelembaban kurang. Hal ini menyebabkan
ketidakseragaman berat badan.
Kepadatan kandang
Kepadatan
kandang dapat mempengaruhi keseragaman berat badan. Kandang yang
terlalu padat menyebabkan ayam tidak mendapatkan pakan dan minum secara
serentak. Selain itu, kandang yang terlalu dapat menimbulkan kanibalisme
dan kebutuhan zat gizi tertentu meningkat. Ketidakseragaman ini dapat
menimbulkan prilaku dominasi pada sekelompok ayam.
Berdasarkan
hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai dengan 14 ekor/m2, masih
cukup baik. Jadi, untuk 1000 ekor broiler memerlukan kandang dengan
ukuran 6 x 12 meter.
Penyakit dan abnormalitas
Kelainan
metabolik seperti ascite, defisiensi dan kelebihan zat gizi,
abnormalitas kaki serta penyakit infeksi dapat menimbulkan
ketidakseragaman. Sebagai contoh, ayam yang mengalami kelainan kaki,
menyebabkan ia sulit untuk mendapatkan makan dan minum. Hal ini
mengakibatkan sebagian ayam kekurangan zat gizi, sehingga pertumbuhan
terhambat.
Secara
umum ayam yang terkena penyakit atau kelainan metabolisme turun nafsu
makannya. Selain itu terjadi gangguan metabolisme yang menyebabkan
ketidakefisienan penggunaan pakan yang dapat menghambat pertumbuhan.
Variasi dalam perlakuan terhadap individu
Cara
memperlakukan individu juga dapat menghasilkan berat badan yang
bervariasi. Ketika kita menangani ribuan ayam untuk vaksinasi, potong
paruh dan pindah tempat, adalah sangat sulit untuk memperlakukan setiap
ayam sama. Kita harus secara terus menerus memonitor para pegawai dan
peralatan untuk meyakinkan bahwa metode kita diterapkan secara seragam
bagi setiap ayam.
Kandang baterai yang meningkat
Pada
industri broiler yang menggunakan kandang baterai bertingkat banyak,
maka terjadi perbedaan terhadap mutu udara, pencahayaan dan suhu
kandang. Perbedaan ini dapat menghasilkan variabilitas berat badan.
Pencahayaan
Pencayahaan
secara alami memegang peranan penting terhadap keseragaman. Intensitas
dan panjang matahari bervariasi dari hari ke hari karena musim, posisi
matahari dan lekukan bumi. Panjang hari secara normal berkisar antara
15-30 menit sebelum matahari terbit sampai dengan 15-30 menit setelah
matahari tenggelam.selama periode 15030 menit senjakala ini panjang
gelombang 400-700 milimikron. Beberapa ayam akan mencari cara untuk
mendapatkan tempat pakan dan makan ketika intensitas cahaya kurang dari
0,25 ft/candle (atau kurang dari 400 milimikron). Juga kondisi berawan,
debu, air dalam udara dan faktor lain juga menurunkan panjang gelombang.
Jadi jumlah stimulasi cahaya terhadap glandula pituitari mungkin
berbeda pada ayam yang berbeda dan kandang yang berbeda. Hal ini
menyebabkan sebagian ayam mencapai dewasa kelamin lebih awal.
Untuk
mengatasi masalah ini, intensitas cahaya dapat disuplementasi secara
buatan, jika cahaya yang tersedia secara alami menurun selama periode
”reading”, sehingga semua kandang memperoleh stimulasi yang sama untuk
memperbaiki keseragaman.
Sistem pemberian pakan
Sistem
pemberian pakan dapat mempengaruhi keseragaman. Pembatasan pakan di
awal pertumbuhan yang salah dapat menyebabkan ketidakseragaman berat
badan, tetapi sistem yang benar akan menghasilkan berat badan broiler
yang lebih seragam.
Pemberian
pakan harus dimulai 30 menit setelah matahari terbit untuk memberikan
semua ayam kesempatan untuk makan pada waktu yang sama. Program
a-skip-a-day akan membuat pakan lebih tersedia pada setiap waktu makan
dan memberi semua ayam kesempatan untuk makan. Jika pakan bervariasi
dalam ukuran juga akan menyebabkan ”selective-feeding” yang menyebabkan
sebagian ayam kelebihan lemak. Untuk itu, keseragaman bentuk dan ukuran
pakan harus diperhatikan.
Dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar penyebab ketidakseragaman berat badan
pada broiler dapat diatasi oleh peternak. Pemeliharaan yang kurang baik
akan menyebabkan ketidakseragaman yang kemudian dapat merugikan bagi
peternak. copy write by :Urip Santoso Ph.D., Dosen Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. POULTRY INDONESIA MARET 2000.
Jumat, 22 Juni 2012
PENTINGNYA PERHITUNGAN FCR PADA BROILER
Feed
Convertion Ratio (FCR) atau rasio konversi pakan merupakan satuan untuk
menghitung efisiensi pakan pada budidaya pembesaran dan penggemukan.
Dengan menghitung FCR dari ayam broiler akan sangat membantu kita di
dalam mengefisienkan pakan yang akan kita gunakan. Hasil perhitungan FCR
dengan angka yang kecil berarti pakan yang diberikan tersebut semakin
bagus.
Rumus menghitung FCR adalah jumlah pakan selama pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen.
Contoh perhitungan :
Diketahui
populasi ayam sebanyak 1000 ekor, menghasilkan berat ayam 1,3 kg,
dengan penggunaan pakan sebanyak 40 sak, maka FCR-nya adalah :
Diketahui ,
Populasi = 1000 ekor
Berat Ayam = 1,3
Banyaknya Pakan = 40 sak (1 sak = 50 kg) = 2000 kg
Ditanyakan,
Berapa FCR-nya?
Penyelesaian,
Berat total ayam yang dipanen = 1000 X 1,3 = 1300 kg
Feed Convertion Ratio (FCR) = 2000 / 1300 = 1,54Kamis, 21 Juni 2012
PADA BROILER MODERN “FUNGSI PEMANAS = PRODUKTIVITAS”
(( Fungsi
pemanas pada ayam potong adalah sangat penting sekali. Karena ayam
potong adalah jenis ternak hasil bioteknologi yang sangat sarat dengan
intervensi manusia di dalam kehidupannya. ))
Dalam situasi perekonomian yang sudah demikian mengglobal, di mana harga hasil produksi perunggasan yang tidak bisa diprediksi dan juga tidak bisa dikendalikan, maka salah satu untuk memenangi pertempuran adalah mengendalikan dan mengoptimalkan faktor internal budidaya.
Artinya jika faktor eksternal itu berada diluar kendali kita, maka peternak jika ingin meraup keuntungan, tidak lain harus mampu mengendalikan faktor internal. Yaitu pada aspek budidaya atau tatalaksana.
Salah satu dari banyak variabel faktor internal adalah memahami arti penting pemanas buatan bagi ayam potong modern. Jika selama ini banyak pihak yang kurang memahami keberadaan dan fungsi essensial pemanas buatan, maka paradigma dan asumsi itu harus segera ditinggalkan.
Mestinya keluhan DOC dan harga pakan mahal dan juga harga jual panen yang rendah harus dijadikan dasar pijak untuk menggenjot produktifitas yang optimal. Baik dari bobot maupun mortalitas.
Suhu lingkungan kandang bagi ayam potong modern, tidak bisa dianggap sepele dan justru harus dijadikan titik awal kesuksesan sebuah usaha budidaya. Menurut Pakar Kesehatan Unggas yang cukup populer, Drs Tony Unandar MSi, bahwa salah satu karakterisitik ayam potong modern adalah konversi pakan yang rendah dengan kecepatan pertumbuhan yang tinggi.
Dan yang paling penting adalah pertumbuhan bulu yang LAMBAT. Point terakhir ini mempunyai korelasi dengan suhu pemanas buatan pada saat awal pemeliharaan ayam. Hal ini terkait pula dengan sifat ayam potong modern yang lebih lambat beradaptasi dengan lingkungan.
Sebuah fakta lapangan yang tidak bisa dibantah, bahwa banyak peternak, sering meremehkan fungsi dan keberadaan pemanas buatan alias brooder pada budidaya pemeliharaan ayam potong (broiler).
Umumnya mereka menilai fungsi pemanas buatan tidak lebih sebagai penghangat anak ayam, sebagai pengganti induknya selama masa pertumbuhan. Maka setelah cukup umur, keberadaan pemanas itupun bisa ditiadakan.
Asumsi itu sebenarnya tidak salah, justru sangat tepat sekali. Namun jika kemudian penjelasannya tidak atas dasar fakta-fakta ilmiah justru menjadi boomerang. Hal itu tidak lain oleh karena dasar pijak penjelasan terlalu disederhanakan.
Menurut Tony bahwa fungsi pemanas pada ayam potong adalah sangat penting sekali. Karena ayam potong adalah jenis ternak hasil bioteknologi yang sangat sarat dengan intervensi manusia di dalam kehidupannya. Terlebih lagi, ayam potong sekarang adalah sudah sangat jauh berbeda dengan ayam potong 50 tahun yang lalu.
Jelas sudah bahwa sifat dan karakter genetik ayam potong saat ini sudah sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan ayam potong masa lalu. Tony bahkan lebih ekstrim menegaskan bahwa ayam potong saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan ayam potong 5 tahun yang lalu.
“Tidak sampai satu abad, dalam perbedaan karakteristik ayam potong, karena 5(lima) tahun yang lalu saja sudah sangat jauh berbeda dengan yang sekarang” jelas Tony. Oleh karena itu tidak bisa disamakan dalam hal pengelolaan dan budi dayanya. Mutlak adanya perubahan yang signifikan untuk bisa mencapai produktiftas yang optimal.
Tony mengibaratkan dalam strategi perang, maka tentunya ada jurus baru agar bisa memenangi sebuah pertempuran. Karena jika dengan jurus dan pola yang lama sudah pasti akan kalah dan tidak membawa hasil yang terbaik.
Adapun sasasan dalam pemeliharaan ayam pada era sekarang ini adalah menghasilkan ayam dengan”daya hidup” yang tinggi. Ini maknanya terus menekan angka mortalitas sekecil mungkin. Selain itu tidak hanya menghasilkan bobot yang ekstreem berat per induvidual, namun justru aspek keseragaman bobot sesuai dengan pola baku efisiensi yaitu konversi pakan yang rendah.
Pada ayam potong modern umur 4 minggu pertumbuhan bulu masih sangat sedikit, akan tetapi di pihak lain pertumbuhan otot sudah demikian pesat. Akibatnya jika fungsi dan keberadaan pemanas buatan tidak optimal, sudah pasti akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan. Termasuk dalam hal pertumbuhan organ-organ penting dalam kehidupannya seperti sistema pencernaan, sistema kekebalan tubuhnya.
Menurut Tony bahwa minggu pertama bagi ayam potong modern adalah sangat penting sekali. Oleh karena itu harus ada perhatian yang ekstra lebih pada saat umur itu, jika tidak ingin merugi. Suhu lingkungan menjadi sangat penting, karena pada akhir minggu pertama bobot harus mencapai 4 (empat) kali lipat dari bobot awal.
Sebagaimana sudah disinggung dimuka, bahwa kemampuan adaptasi yang rendah itu, harus disiasati. Point awal hal itu adalah pada faktor suhu lingkungan. Sebagaimana diketahui meski ayam termasuk hewan berdarah panas (homeothermal) tetapi ia adalah termasuk hewan peralihan dari hewan berdarah dingin ke hewan berdarah panas sejati (mamalia). Makanya ketika ayam habis menetas, thermoregulator / pengatur suhu badannya belum berfungsi.
Oleh karena itu fungsi pemanas buatan menjadi sangat penting sekali, karena bukan saja menjadi penghangat semata, akan tetapi panas itu juga berfungsi menstimulus fungsi-fungsi organ lain termasuk fungsi pengatur suhu bandannya. Adapun fungsi organ pengatur suhu badan ayam mulai berfungsi pada hari ke-7 dan efektif bekerja secara optimal pada umur 21 hari.
Atas dasar itu maka kesesuaian suhu lingkungan bagi ayam potong modern menjadi sangat penting. Dan variabel terciptanya suhu lingkungan yang ideal tidak hanya berasal dari pemanas buatan semata, akan tetapi ada aspek yang lain. Sebagai contohnya adalah ketebalan litter dan ventilasi kandang. Litter yang tipis akan menimbulkan panas yang cepat muncul dan juga sebaliknya akan cepat hilang jika ditiup angin kencang. Idealnya ketebalan litter menurut Tony adalah 8 cm.
Sedangkan ventilasi kandang akan sangat mempengaruhi suhu ideal di dalam kandang. Oleh karena itu tirai pengatur ventilasi harus diatur sedemikian rupa agar hembusan angin tidak menurunkan suhu lngkungan dalam kandang, tetapi juga tidak menyebabkan rendahnya kelembaban dan sirkulasi udara yang lambat bergerak.
Idealnya pemanas buatan dihidupkan 4-6 jam sebelum anak ayam (DOC) masuk ke dalam kandang. Suhu dan kelembaban pada umur dibawah 3 minggu adalah 30-35C dan 50-70%. Setelah umur lebih 3 minggu atau dewasa, suhu lingkungan 18 – 29.6 C dan kelembabannya juga 50-70%.
Untuk memeriksa apakah suhu lingkunga sesuai yang dibutuhkan ayam dapat dilihat dan diraba pada kaki, leher dan muka. Jika kaki teraba dingin, maka sangat mungkin litter terlalu tebal atau terlalu tipis. Solusi atur ketebalan litter.
Sebagaimana diungkapkan oleh Tony, bahwa arti pentingnya suhu lingkungan yang terukur pada litter di mana suhu optimal untuk produktiftas ayam potong modern adalah berkisar 30-32C. Pada suhu itu konversi pakan berkisar 1.46-1.47 dengan pertambahan berat badan (ADG) 53.0-53.6 gram. Sedangkan jika suhu pada litter berkisar 20-24C konversi pakan cukup tinggi yaitu mencapai 1.50-1,52 dengan ADG 50,0-51,2 gram.
Jika suhu litter dingin maka akan menyebabkan konversi pakan buruk, pertumbuhan buruk dan juga tidak seragamnya pertumbuhan dalam populasi. Oleh karena itu Tony menyarankan agar jangan mengandalkan pada alat ukur suhu yang terdapat pada kandang saja akan tetapi harus memeriksa secara sampling ayam pada kaki , leher dan muka. Sebab ayam membutuhkan suhu lingkungan yang effektif atau yang benar-benar dirasakan oleh ayam dalam rangka untuk pertumbuhan dan produktifitasnya.
Akhirnya bahwa masalah temperatur lingkungan begitu penting bagi pertumbuhan, kesehatan dan juga produktifitas ayam itu.
tag from: majalah infovet tgl 22 juni 2011
Dalam situasi perekonomian yang sudah demikian mengglobal, di mana harga hasil produksi perunggasan yang tidak bisa diprediksi dan juga tidak bisa dikendalikan, maka salah satu untuk memenangi pertempuran adalah mengendalikan dan mengoptimalkan faktor internal budidaya.
Artinya jika faktor eksternal itu berada diluar kendali kita, maka peternak jika ingin meraup keuntungan, tidak lain harus mampu mengendalikan faktor internal. Yaitu pada aspek budidaya atau tatalaksana.
Salah satu dari banyak variabel faktor internal adalah memahami arti penting pemanas buatan bagi ayam potong modern. Jika selama ini banyak pihak yang kurang memahami keberadaan dan fungsi essensial pemanas buatan, maka paradigma dan asumsi itu harus segera ditinggalkan.
Mestinya keluhan DOC dan harga pakan mahal dan juga harga jual panen yang rendah harus dijadikan dasar pijak untuk menggenjot produktifitas yang optimal. Baik dari bobot maupun mortalitas.
Suhu lingkungan kandang bagi ayam potong modern, tidak bisa dianggap sepele dan justru harus dijadikan titik awal kesuksesan sebuah usaha budidaya. Menurut Pakar Kesehatan Unggas yang cukup populer, Drs Tony Unandar MSi, bahwa salah satu karakterisitik ayam potong modern adalah konversi pakan yang rendah dengan kecepatan pertumbuhan yang tinggi.
Dan yang paling penting adalah pertumbuhan bulu yang LAMBAT. Point terakhir ini mempunyai korelasi dengan suhu pemanas buatan pada saat awal pemeliharaan ayam. Hal ini terkait pula dengan sifat ayam potong modern yang lebih lambat beradaptasi dengan lingkungan.
Sebuah fakta lapangan yang tidak bisa dibantah, bahwa banyak peternak, sering meremehkan fungsi dan keberadaan pemanas buatan alias brooder pada budidaya pemeliharaan ayam potong (broiler).
Umumnya mereka menilai fungsi pemanas buatan tidak lebih sebagai penghangat anak ayam, sebagai pengganti induknya selama masa pertumbuhan. Maka setelah cukup umur, keberadaan pemanas itupun bisa ditiadakan.
Asumsi itu sebenarnya tidak salah, justru sangat tepat sekali. Namun jika kemudian penjelasannya tidak atas dasar fakta-fakta ilmiah justru menjadi boomerang. Hal itu tidak lain oleh karena dasar pijak penjelasan terlalu disederhanakan.
Menurut Tony bahwa fungsi pemanas pada ayam potong adalah sangat penting sekali. Karena ayam potong adalah jenis ternak hasil bioteknologi yang sangat sarat dengan intervensi manusia di dalam kehidupannya. Terlebih lagi, ayam potong sekarang adalah sudah sangat jauh berbeda dengan ayam potong 50 tahun yang lalu.
Jelas sudah bahwa sifat dan karakter genetik ayam potong saat ini sudah sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan ayam potong masa lalu. Tony bahkan lebih ekstrim menegaskan bahwa ayam potong saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan ayam potong 5 tahun yang lalu.
“Tidak sampai satu abad, dalam perbedaan karakteristik ayam potong, karena 5(lima) tahun yang lalu saja sudah sangat jauh berbeda dengan yang sekarang” jelas Tony. Oleh karena itu tidak bisa disamakan dalam hal pengelolaan dan budi dayanya. Mutlak adanya perubahan yang signifikan untuk bisa mencapai produktiftas yang optimal.
Tony mengibaratkan dalam strategi perang, maka tentunya ada jurus baru agar bisa memenangi sebuah pertempuran. Karena jika dengan jurus dan pola yang lama sudah pasti akan kalah dan tidak membawa hasil yang terbaik.
Adapun sasasan dalam pemeliharaan ayam pada era sekarang ini adalah menghasilkan ayam dengan”daya hidup” yang tinggi. Ini maknanya terus menekan angka mortalitas sekecil mungkin. Selain itu tidak hanya menghasilkan bobot yang ekstreem berat per induvidual, namun justru aspek keseragaman bobot sesuai dengan pola baku efisiensi yaitu konversi pakan yang rendah.
Pada ayam potong modern umur 4 minggu pertumbuhan bulu masih sangat sedikit, akan tetapi di pihak lain pertumbuhan otot sudah demikian pesat. Akibatnya jika fungsi dan keberadaan pemanas buatan tidak optimal, sudah pasti akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan. Termasuk dalam hal pertumbuhan organ-organ penting dalam kehidupannya seperti sistema pencernaan, sistema kekebalan tubuhnya.
Menurut Tony bahwa minggu pertama bagi ayam potong modern adalah sangat penting sekali. Oleh karena itu harus ada perhatian yang ekstra lebih pada saat umur itu, jika tidak ingin merugi. Suhu lingkungan menjadi sangat penting, karena pada akhir minggu pertama bobot harus mencapai 4 (empat) kali lipat dari bobot awal.
Sebagaimana sudah disinggung dimuka, bahwa kemampuan adaptasi yang rendah itu, harus disiasati. Point awal hal itu adalah pada faktor suhu lingkungan. Sebagaimana diketahui meski ayam termasuk hewan berdarah panas (homeothermal) tetapi ia adalah termasuk hewan peralihan dari hewan berdarah dingin ke hewan berdarah panas sejati (mamalia). Makanya ketika ayam habis menetas, thermoregulator / pengatur suhu badannya belum berfungsi.
Oleh karena itu fungsi pemanas buatan menjadi sangat penting sekali, karena bukan saja menjadi penghangat semata, akan tetapi panas itu juga berfungsi menstimulus fungsi-fungsi organ lain termasuk fungsi pengatur suhu bandannya. Adapun fungsi organ pengatur suhu badan ayam mulai berfungsi pada hari ke-7 dan efektif bekerja secara optimal pada umur 21 hari.
Atas dasar itu maka kesesuaian suhu lingkungan bagi ayam potong modern menjadi sangat penting. Dan variabel terciptanya suhu lingkungan yang ideal tidak hanya berasal dari pemanas buatan semata, akan tetapi ada aspek yang lain. Sebagai contohnya adalah ketebalan litter dan ventilasi kandang. Litter yang tipis akan menimbulkan panas yang cepat muncul dan juga sebaliknya akan cepat hilang jika ditiup angin kencang. Idealnya ketebalan litter menurut Tony adalah 8 cm.
Sedangkan ventilasi kandang akan sangat mempengaruhi suhu ideal di dalam kandang. Oleh karena itu tirai pengatur ventilasi harus diatur sedemikian rupa agar hembusan angin tidak menurunkan suhu lngkungan dalam kandang, tetapi juga tidak menyebabkan rendahnya kelembaban dan sirkulasi udara yang lambat bergerak.
Idealnya pemanas buatan dihidupkan 4-6 jam sebelum anak ayam (DOC) masuk ke dalam kandang. Suhu dan kelembaban pada umur dibawah 3 minggu adalah 30-35C dan 50-70%. Setelah umur lebih 3 minggu atau dewasa, suhu lingkungan 18 – 29.6 C dan kelembabannya juga 50-70%.
Untuk memeriksa apakah suhu lingkunga sesuai yang dibutuhkan ayam dapat dilihat dan diraba pada kaki, leher dan muka. Jika kaki teraba dingin, maka sangat mungkin litter terlalu tebal atau terlalu tipis. Solusi atur ketebalan litter.
Sebagaimana diungkapkan oleh Tony, bahwa arti pentingnya suhu lingkungan yang terukur pada litter di mana suhu optimal untuk produktiftas ayam potong modern adalah berkisar 30-32C. Pada suhu itu konversi pakan berkisar 1.46-1.47 dengan pertambahan berat badan (ADG) 53.0-53.6 gram. Sedangkan jika suhu pada litter berkisar 20-24C konversi pakan cukup tinggi yaitu mencapai 1.50-1,52 dengan ADG 50,0-51,2 gram.
Jika suhu litter dingin maka akan menyebabkan konversi pakan buruk, pertumbuhan buruk dan juga tidak seragamnya pertumbuhan dalam populasi. Oleh karena itu Tony menyarankan agar jangan mengandalkan pada alat ukur suhu yang terdapat pada kandang saja akan tetapi harus memeriksa secara sampling ayam pada kaki , leher dan muka. Sebab ayam membutuhkan suhu lingkungan yang effektif atau yang benar-benar dirasakan oleh ayam dalam rangka untuk pertumbuhan dan produktifitasnya.
Akhirnya bahwa masalah temperatur lingkungan begitu penting bagi pertumbuhan, kesehatan dan juga produktifitas ayam itu.
tag from: majalah infovet tgl 22 juni 2011
Persiapan Kandang
| Persiapan Kandang | | |
Masa persiapan kandang mempunyai andil yang besar terhadap keberhasilan pemeliharaan ayam. Kegagalan pada masa pemeliharaan ini akan mengakibatkan peningkatan ancaman serangan bibit penyakit.
Saat
kondisi kandang yang kotor, konsentrasi atau tantangan bibit penyakit
dalam kandang meningkat. Kondisi ini akan memperlebar peluang ayam
terinfeksi atau terserang penyakit. Dan kebalikannya, saat kondisi
kandang bersih dan telah didesinfeksi maka konsentrasi bibit penyakit
akan menurun sehingga tantangan bibit penyakit berkurang dan ayam aman
dari infeksi atau serangan penyakit.
Setelah Ayam Meninggalkan Kandang
Saat
ayam diafkir atau dipanen, di dalam kandang akan tertinggal sisa-sisa
pemeliharaan ayam, baik kotoran, debu maupun bulu. Tak tertinggal juga,
sejumlah besar bibit penyakit yang pada periode sebelumnya telah
menyertai keberadaan ayam.
Kondisi kandang setelah ayam diafkir atau dipanen relatif kotor dan banyak terkontaminasi oleh bibit penyakit
Ayam
seluruhnya telah meninggalkan kandang, begitu juga seharusnya sisa-sisa
pemeliharaan ayam tersebut. Oleh karena itu kita perlu melakukan
beberapa manajemen pembersihan dan desinfeksi kandang agar kandang
sebisa mungkin kembali pada kondisi semula, baik dari struktur (kondisi
fisik) maupun fungsinya.
Kotoran
ayam menumpuk di setiap sudut kandang, bulu-bulu ayam juga merata di
seluruh bagian kandang. Tak ketinggalan juga debu banyak berterbangan di
dalam dan sekitar kandang. Kondisi ini tentu menjadi media yang baik
sebagai tempat persembunyian dan perkembangan bibit penyakit.
Perlu
menjadi pemahaman kita bersama, saat kondisi kandang dan lingkungannya
kotor, bibit penyakit akan bertahan lebih lama. Terlebih lagi ada bahan
organik, seperti feses yang bisa menjadi media bibit penyakit untuk
tetap hidup.
Bibit
penyakit memiliki kemampuan bertahan dalam jangka waktu yang
bermacam-macam (tabel 1). Hal ini perlu kita perhatikan agar saat proses
pembersihan dan pendesinfeksian kandang kita lakukan dengan sepenuhnya.
Tabel 1. Daya Tahan Bibit Penyakit di Luar Tubuh Ayam
Perlakuan Kandang Kotor
Fokus
keberhasilan manajemen pembersihan dan desinfeksi kandang ini ialah
jumlah bibit penyakit yang berada di dalam kandang dapat dikurangi atau
diminimalkan. Kenapa bukan dihilangkan (sterilisasi)? Sterilisasi bukan
istilah yang tepat digunakan untuk aktivitas tersebut, mengingat kondisi
kandang yang tidak bisa terkendali secara penuh, misalnya saja aliran
udara yang tidak bisa dikendalikan akan mengakibatkan bibit penyakit
selalu ada di dalam kandang. Oleh karena itu, istilah yang digunakan
dalam manajemen pembersihan kandang ialah sanitasi dan desinfeksi.
Tahapan penanganan kandang kotor antara lain :
Sisa kotoran ayam, baik berupa feses, sisa litter,
bulu maupun debu hendaknya dikeluarkan dari kandang dengan cara disapu.
Setelah itu, lakukan penyemprotan air bertekanan dengan memakai jetspray. Pastikan semua bagian kandang tersemprot oleh jetspray.
Gunakan jetspray untuk membersihkan sisa kotoran ayam di sela-sela dinding atau lantai
Penggunaan jetspray
ini akan memudahkan kita untuk menghilangkan sisa feses yang berada di
sela-sela dinding atau lantai secara optimal. Selain itu, pemakaian jetspray ini akan mempercepat proses pembersihan kandang dengan hasil yang lebih optimal.
Seringkali
yang menjadi permasalahan ialah masih adanya sisa feses yang berada di
bagian ini. Jika tidak dihilangkan maka bisa dipastikan siklus bibit
penyakit akan selalu berlangsung dan bibit penyakit selalu berada di
dalam kandang. Adanya sisa feses ini menjadi tempat persembunyian bibit
penyakit dan daya kerja desinfektan membasmi bibit penyakit yang berada
di sisa feses ini menjadi tidak optimal.
Sisa feses yang berada di sela-sela lantai kandang akan menyebabkan bibit penyakit selalu berada di dalam kandang
Membersihkan
lantai dengan cara menggosok menggunakan sabun juga perlu dilakukan.
Feses ayam memiliki lapisan lemak atau minyak sehingga saat menempel di
lantai kandang sulit dihilangkan jika hanya menggunakan air. Oleh karena
itu diperlukan pemakaian sabun yang mampu melarutkan minyak tersebut.
Pembersihan dengan sabun ini juga sekaligus sebagai cara untuk
menghilangkan kotoran yang masih tersisa dari penyemprotan dengan
menggunakan jetspray.
Proses pembersihan dengan sabun akan memastikan lapisan lemak atau minyak dari feses ayam hilang
Setelah
penyabunan, kandang hendaknya disemprot dengan air lagi kemudian
dikeringkan. Sabun yang masih tersisa dapat menurunkan potensi beberapa
jenis desinfektan, terutama yang mengandung zat aktif dari golongan ammonium quartener (Medisep atau Mediklin).
Penyemprotan desinfektan (desinfeksi, red)
bertujuan membasmi bibit penyakit yang masih tersisa di dalam kandang,
baik di lantai maupun udara kandang. Penyemprotan desinfektan yang
pertama sebaiknya dilakukan dengan optimal, dimana seluruh bagian
kandang harus basah atau terkena cairan desinfektan. Perlu diketahui,
desinfektan hanya akan bekerja jika kontak dengan bibit penyakit. Oleh
karena itu, penyemprotan desinfektan yang pertama kali sebaiknya
menggunakan jetspray. Dengan demikian cairan desinfektan dapat masuk ke pori-pori dinding atau lantai kandang.
Desinfektan yang bisa digunakan antara lain Formades, Sporades, Mediklin, Medisep, Antisep atau Neo Antisep. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat penggunaan desinfektan :
Tidak
semua bibit penyakit dapat dibasmi oleh desinfektan, oleh karenanya
pemilihan desin-fektan harus dilakukan secara tepat. Contohnya ialah
virus yang tidak memiliki amplop (non enveloped), seperti virus Gumboro, Egg drop syndrome (EDS) dan reovirus tidak dapat dibasmi oleh desinfektan dari golongan ammonium chloride (quats) seperti Medisep atau Mediklin.
Hal ini dikarenakan mekanisme kerja dari desinfektan golongan quats
ialah merusak dinding sel sehingga mengurangi permeabilitas dinding sel
dan akhirnya bibit penyakit mati. Virus yang tidak memiliki amplop tidak
memiliki dinding sel sehingga desinfektan golongan quats tidak bisa
membasminya.
1. Materi organik
Materi
organik, seperti sisa feses dan lendir juga dapat menurunkan kerja
desinfektan. Materi organik ini akan menghalangi kontak antar
desinfektan dan bibit penyakit. Akibatnya daya kerja desinfektan
cenderung menurun, terlebih lagi desinfektan dari golongan klorin,
iodine (Antisep, Neo Antisep) dan quats (Medisep, Mediklin). Disinilah pentingnya melakukan pembersihan kandang dengan menghilangkan semua bahan organik yang ada.
2. pH
Potent of hydrogen
atau tingkat keasaman air yang digunakan untuk melarutkan desinfektan
juga berpengaruh terhadap daya kerja desinfektan. Desinfektan golongan
iodine dan kaporit akan bekerja optimal di suasana asam-netral (pH 4-7)
dan golongan quats dan glutaraldehyde akan berfungsi optimal saat
dilarutkan dalam air dengan pH basa - netral. Melihat karakteristik itu,
maka alangkah baiknya jika kita menggunakan air dengan pH netral untuk
melarutkan desinfektan sehingga semua jenis desinfektan dapat bekerja
dengan optimal.
3. Tingkat kesadahan
Tingkat kesadahan ditentukan dari kandungan ion Ca2+, Mg2+ atau Fe3+
dalam air tersebut. Semakin tinggi kandungan ion-ion itu, semakin
tinggi juga tingkat kesadahan air. Sama halnya pada obat, pelarutan
desinfektan dalam air dengan tingkat kesadahan yang tinggi akan
mengakibatkan penurunan potensi desinfektan, utamanya desinfektan dari
golongan quats dan iodine. Saat dilarutkan dalam air sadah, desinfektan
itu akan diikat oleh ion-ion tersebut, akibatnya daya kerjanya menurun.
Indikasi
yang menunjukkan air memiliki tingkat kesadahan yang tinggi ialah saat
dilarutkan sabun atau detergen dalam air itu tidak akan terbentuk busa.
Guna memastikan tingkat kesadahan air sebaiknya dilakukan pengujian di
laboratorium dan Medion memiliki fasilitas ini.
Penyemprotan
desinfektan hendaknya dilakukan di seluruh bagian kandang, baik lantai,
dinding, atap maupun udara dalam kandang. Perlu dipastikan semua bagian
kandang terkena dan basah oleh cairan desinfektan agar bibit penyakit
yang mencemari kandang berkurang.
Hasil trial penyemprotan Formades dan Sporades pada dinding dan udara dalam kandang yang dilakukan dengan teknik swap
Penanganan
kandang kotor tidak hanya dilakukan pada kandangnya saja, tetapi juga
peralatan dan lingkungan kandang. Peralatan kandang seperti tempat
ransum, tempat minum, tirai, brooder (Indukan Gas Medion [IGM]), chick guard dalam peralatan yang lainnya hendaknya dibersihkan, didesinfeksi dan diperiksa keoptimalan kerja dan fungsinya.
Tempat makan dan tempat minum harus dibersihkan dan didesinfeksi sebelum digunakan kembali
Tempat
makan dan minum dicuci sampai bersih kemudian didesinfeksi dengan cara
direndam dalam larutan desinfektan selama 30 menit. Desinfektan yang
biasanya digunakan ialah Medisep (15 ml
tiap 10 liter air). Setelah itu, dikeringkan dengan cara
diangin-anginkan. Kami menyarankan untuk pengeringan sebaiknya tidak
dilakukan di bawah sinar matahari langsung karena bisa mempercepat
kerusakan peralatan itu.
Kondisi atau kelayakan peralatan juga perlu diperiksa. Pastikan semua peralatan dapat berfungsi secara optimal. Pastikan IGM dapat bekerja dengan baik dalam menghasilkan panas bagi DOC, jangan sampai saat akan digunakan IGM mengalami masalah. Kondisi ini akan menyebabkan ayam stres sehingga pertumbuhannya terhambat.
Biofilm menjadi tempat persembunyian bibit penyakit yang aman dan bisa menghambat kerja desinfektan membasmi bibit penyakit
Demikian
juga dengan tempat minum, ganti piringan tempat minum yang sudah pecah
agar air minum tidak membasahi lantai kandang sehingga memicu
peningkatan kadar amonia. Pada pemakaian Tempat Minum Ayam Otomatis (TMAO) atau ND-360 (nipple drinker) lakukan pembersihan saluran air atau paralon dengan cara flushing. Flushing bisa diartikan sebagai teknik pembersihan dengan menyemprotkan air bertekanan. Namun, jika lapisan biofilm
(sisa obat, vitamin dan vaksin yang menempel pada dinding paralon)
telah terbentuk lama dan menjadi kerak maka perlu penambahan zat kimia
tertentu untuk menghilangkannya. Zat kimia ini antara lain hidrogen
peroksida (H2O2) (10%), ozon (1-2 mg/l) atau asam sitrat (10 ml/l). Flushing
hendaknya dilakukan secara rutin setelah pemberian vitamin, obat atau
vaksin melalui air minum. Namun jika tidak memungkinkan maka minimal
dilakukan saat proses persiapan kandang.
Selain
saluran air, pembersihan dan desinfeksi juga dilakukan pada tempat
penampungan air minum, baik torn di masing-masing kandang maupun water ground.
Perlu kita perhatikan, saat desinfeksi tempat dan penampungan air minum
hendaknya dipilih desinfektan yang aman bagi ayam, seperti Medisep, Neo Antisep atau Antisep.
Rumput yang berada di sekitar kandang perlu dirapikan agar tidak menjadi sarang nyamuk maupun insekta lainnya
Selokan yang bersih dan aliran lancar akan meminimalkan sarang atau tempat berkembang biak nyamuk
Kondisi
lingkungan kandang juga perlu diperhatikan. Rumput atau semak-semak
yang tumbuh di sekitar kandang harus dikontrol jangan sampai tumbuh
secara liar karena bisa menjadi tempat persembunyian nyamuk, lalat
maupun insekta lainnya. Rumput hendaknya dipotong atau dirapikan.
Selokan dibersihkan sehingga aliran airnya lancar. Genangan air
diselokan akan menjadi media yang cocok untuk perkembangan nyamuk yang
menjadi agen atau vektor penularan penyakit malaria like atau malaria unggas.
Perbaikan Kandang
Kondisi
kandang juga perlu mendapatkan perhatian saat masa persiapan kandang.
Kandang merupakan tempat tinggal ayam dan kandang yang baik tentu harus
nyaman.
Kondisi
atap, dinding maupun lantai harus dikontrol. Saat ditemukan kerusakan
pada salah satu bagian kandang tersebut perlu segera dilakukan
perbaikan.
Atap yang bocor dan lantai yang rusak berlubang hendaknya diperbaiki saat masa persiapan kandang
Kondisi
tanah di bawah kandang yang berperan menyerap air dari feses juga perlu
diberikan perlakuan khusus, seperti penambahan kapur. Selain membunuh
bibit penyakit, penambahan kapur ini juga dapat mengembalikan pH tanah
menjadi netral dan juga meningkatkan daya serap tanah terhadap air.
Kandang Diistirahatkan
Setelah
kandang dibersihkan dan didesinfeksi seluruhnya, tiba saatnya kandang
diistirahatkan untuk beberapa waktu. Secara umum, masa istirahat kandang
hendaknya tidak kurang dari 14 hari. Bahkan saat terjadi kasus,
misalnya serangan Gumboro maka masa istirahat kandang diperpanjang.
Tujuannya agar bibit penyakit yang berada di kandang bisa dikurangi
secara optimal.
Saat
istirahat kandang sebaiknya tidak ada aktivitas di dalam dan sekitar
kandang atau minimal aktivitas pekerja keluar masuk dibatasi. Pintu dan
tirai kandang ditutup. Hanya saja kita sering lupa meski kandang dalam
masa istirahat namun lalu lintas kendaraan yang keluar masuk lokasi
peternakan kurang terkontrol. Anggapannya di kandang sedang tidak ada
ayam, makanya mobil yang keluar masuk tidak dibatasi dan didesinfeksi.
Sebuah
dilematis tentunya, selama istirahat kandang ini, peternak atau pekerja
kandang untuk sementara waktu menganggur dan tidak memperoleh
pendapatan. Oleh karenanya ada beberapa peternak yang mempersingkat masa
istirahat kandang dengan dalih ingin mengejar produksi. Perlu kita
ingat, masa istirahat kandang yang lebih singkat ini akan membawa
konsekuensi bibit penyakit belum sepenuhnya berkurang. Dengan demikian,
saat manajemen pemeliharaan harus dilakukan dengan lebih ketat, terutama
proses biosecurity atau penyemprotan kandang.
Inspeksi Kesiapan Kandang
Inspeksi
kesiapan kandang dirasa perlu dilakukan untuk memastikan kondisi
kandang benar-benar siap menerima kedatangan ayam. Inspeksi ini biasanya
dilakukan 1 minggu sebelum chicks in. Aspek kesiapan yang perlu diinspeksi diantaranya :
Kebersihan
menjadi aspek yang pertama kali perlu diamati saat melakukan inspeksi
kesiapan kandang. Jika kandang masih kotor, misalnya masih terdapat sisa
feses atau litter yang menempel pada
lantai kandang dengan sebaran yang cukup banyak maka hendaknya dilakukan
pembersihan dan desinfeksi ulang. Bahkan di salah satu farm di Jakarta
Timur jika ditemukan hal itu diputuskan untuk mengundur jadwal chick in pada kandang itu.Adanya sisa feses di lantai kandang bisa menjadi sumber penyakit untuk ayam yang akan dipelihara
Inspeksi
keadaan kandang ini lebih diarahkan pada struktur kandang. Apakah masih
ada atap yang bocor, lantai yang jebol atau dinding yang rusak?
Kekokohan kandang juga harus kita perhatikan. Selain itu, tanah yang
berada di bawah lantai kandang panggung juga perlu diperik-sa apakah
masih ada sisa feses.
Peralatan
kandang seperti tempat ransum, tempat minum, tirai maupun pemanas juga
harus diinspeksi baik kebersihan maupun fungsinya. Jumlah tempat minum
dan ransum juga harus diperhatikan. Selain itu, bahan litter sebaiknya
telah disiapkan di dalam kandang.
Kondisi lingkungan kandang
Jika ada rumput atau semak-semakan yang masih tumbuh liar di sekitar kandang maka perlu dilakukan pemotongan. Saluran air juga perlu dicek kembali untuk memastikan aliran air pembuangan lancar.
Jika diperlukan bisa dibuat form khusus untuk keperluan inspeksi ini. Hasil inspeksi ini dijadikan dasar kita untuk menentukan siap tidaknya kandang menerima DOC.
Setelah
dinyatakan kandang siap menerima DOC maka persiapan selanjutnya ialah
membuat kandang brooding. Peralatan juga mulai dipasang dimasing-masing
kandang brooding. Litter yang telah didesinfeksi mulai dihamparkan di
dalam kandang.
Desinfeksi
kandang ulang (desinfeksi ke-2) juga perlu dilakukan. Desinfeksi ke-2
ini bisa dilakukan dengan teknik semprot halus atau pengasapan (fogging). Desinfeksi ulang ini bisa dilakukan 3 hari sebelum chicks in.
Proses
persiapan kandang yang meliputi pembersihan dan desinfeksi peralatan,
kandang maupun lingkungannya hendaknya kita lakukan dengan optimal.
Mengingat proses pembersihan dan desinfeksi kandang yang optimal akan
menurunkan konsentrasi bibit penyakit. Dan juga kondisi kandang yang
nyaman dan peralatan yang optimal sangat diperlukan bagi ayam untuk
mengoptimalkan potensi genetik yang dibawanya, yaitu pertumbuhan berat
badan atau produksi telur secara optimal. Keberhasilan awal sangat mendukung produktivitas ayam.
Tag from : Info Medion Online (http://info.medion.co.id).
|
Kamis, 07 Juni 2012
KONSULTASI MEMBANGUN KANDANG
Bapak H. Zulfahmi HIK
email : zulfahmi@patra-sk.com
Saya berencana membangun
kandang ayam broiler di areal seluas 80 x 30 m. Apakah memungkinkan
untuk mendirikan kandang dengan kapasitas 11.000 ekor, lengkap dengan gudang
pakan dan rumah pekerja di areal tersebut?
Jawab :
Dari keterangan yang
Bapak berikan, luas tanah yang Bapak miliki adalah 2400 m2. Saran
kami, untuk populasi ayam sebanyak 11.000 ekor sebaiknya Bapak membangun dua
kandang dengan kapasitas masing-masing sebanyak 6000 dan 5000 ekor. Hal ini
untuk mempermudah monitoring saat pemeliharaan. Perhitungan luas tanah
yang diperlukan untuk membangun kandang didasarkan pada standar kepadatan ayam broiler
dewasa yaitu 6–8 ekor/m2 dengan lebar kandang maksimal 7 m
(tujuannya agar sirkulasi udara dalam kandang baik). Dari standar tersebut,
maka perhitungan luas tanah yang diperlukan untuk membangun kandang yaitu :
- Luas kandang untuk kapasitas 6.000 ekor = 6000 ekor : 8 ekor = 750 m2
- Luas kandang untuk kapasitas 5.000 ekor = 5000 ekor : 8 ekor = 625 m2
- Total luas tanah untuk membangun 2 kandang = 750 m2 + 625 m2 = 1375 m2
- Sisa lahan setelah dikurangi untuk membangun kandang = 2400 m2 – 1375 m2 = 1025 m2. Sisa lahan ini bisa digunakan untuk membangun gudang, mess karyawan, space/ruang lahan untuk jarak antar kandang sekitar 7 m, lahan untuk selokan, pembangunan sumur dan septic tank (10 meter dari sumur)
Masih ada beberapa hal
yang harus Bapak perhatikan dalam membangun kandang yaitu :
- Jarak ideal antar kandang adalah 1 x lebar kandang
- Posisi kandang memanjang ke arah barat-timur
- Panjang kandang disesuaikan dengan luas kandang masing-masing kapasitas yaitu:
- Panjang kandang untuk kapasitas 6.000 ekor
= Luas kandang : Lebar kandang
= 750 m2 : 7 m = 107,14 m
- Panjang kandang untuk kapasitas 5.000 ekor
= Luas kandang : Lebar kandang
= 625 m2 : 7 m = 89,29 m
Luas gudang pakan dapat
disesuaikan dengan jumlah pakan yang akan Bapak beli tiap minggunya. Bapak juga
perlu menyediakan ruang untuk menyimpan peralatan kandang yang sedang tidak
digunakan. Sedangkan luas ruang mess karyawan dapat disesuaikan dengan
jumlah karyawan yang akan Bapak pekerjakan. Untuk menghemat lahan, Bapak dapat
membangun mess dengan sistem bertingkat. Selain gudang dan mess
karyawan, yang tak kalah penting yang perlu disediakan adalah pos jaga, gerbang
untuk desinfeksi kendaraan tamu, serta pagar pengaman di sekeliling kandang
untuk mencegah hewan liar masuk ke lingkungan kandang.
Copy write :Info Medion
Edisi April 2012 (http://info.medion.co.id).
Minggu, 03 Juni 2012
BUDIDAYA AYAM PEDAGING (BROILER)
BUDIDAYA AYAM PEDAGING (BROILER)
. Pendahuluan
Ayam Pedaging (Broiler) adalah ayam ras yang mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan daging dalam waktu relatif singkat (5-7 minggu). Broiler mempunyai peranan yang penting sebagai sumber protein hewani.
II. Pemilihan Bibit
Bibit yang baik mempunyai ciri : sehat dan aktif bergerak, tubuh gemuk (bentuk tubuh bulat), bulu bersih dan kelihatan mengkilat, hidung bersih, mata tajam dan bersih serta lubang kotoran (anus) bersih
III. Kondisi Teknis yang Ideal
a. Lokasi kandang
Kandang ideal terletak di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk, mudah dicapai sarana transportasi, terdapat sumber air, arahnya membujur dari timur ke barat.
b.Pergantian udara dalam kandang.
Ayam bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik.
c.Suhu udara dalam kandang.
Suhu ideal kandang sesuai umur adalah :
Ayam Pedaging (Broiler) adalah ayam ras yang mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan daging dalam waktu relatif singkat (5-7 minggu). Broiler mempunyai peranan yang penting sebagai sumber protein hewani.
II. Pemilihan Bibit
Bibit yang baik mempunyai ciri : sehat dan aktif bergerak, tubuh gemuk (bentuk tubuh bulat), bulu bersih dan kelihatan mengkilat, hidung bersih, mata tajam dan bersih serta lubang kotoran (anus) bersih
III. Kondisi Teknis yang Ideal
a. Lokasi kandang
Kandang ideal terletak di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk, mudah dicapai sarana transportasi, terdapat sumber air, arahnya membujur dari timur ke barat.
b.Pergantian udara dalam kandang.
Ayam bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik.
c.Suhu udara dalam kandang.
Suhu ideal kandang sesuai umur adalah :
Umur (hari)
|
Suhu ( 0C )
|
01 - 07
|
34 - 32
|
08 - 14
|
29 - 27
|
15 - 21
|
26 - 25
|
21 - 28
|
24 - 23
|
29 - 35
|
23 - 21
|
d.Kemudahan mendapatkan sarana produksi
Lokasi kandang sebaiknya dekat dengan poultry shop atau toko sarana peternakan.
IV. Tata Laksana Pemeliharaan
4.1 Perkembangan
Tipe kandang ayam Broiler ada dua, yaitu bentuk panggung dan tanpa panggung (litter). Tipe panggung lantai kandang lebih bersih karena kotoran langsung jatuh ke tanah, tidak memerlukan alas kandang sehingga pengelolaan lebih efisien, tetapi biaya pembuatan kandang lebih besar. Tipe litter lebih banyak dipakai peternak, karena lebih mudah dibuat dan lebih murah.
Pada awal pemeliharaan, kandang ditutupi plastik untuk menjaga kehangatan, sehingga energi yang diperoleh dari pakan seluruhnya untuk pertumbuhan, bukan untuk produksi panas tubuh. Kepadatan kandang yang ideal untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah 8-10 ekor/m2, lebih dari angka tersebut, suhu kandang cepat meningkat terutama siang hari pada umur dewasa yang menyebabkan konsumsi pakan menurun, ayam cenderung banyak minum, stress, pertumbuhan terhambat dan mudah terserang penyakit.
4.2. Pakan
- Pakan merupakan 70% biaya pemeliharaan. Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari (Average Daily Gain/ADG) tinggi. Pemberian pakan dengan sistem ad libitum (selalu tersedia/tidak dibatasi).
- Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap pertama disebut tahap pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus mengandung kadar protein minimal 23%. Tahap kedua disebut penggemukan (umur diatas 20 hari), yang memakai pakan berkadar protein 20 %. Jenis pakan biasanya tertulis pada kemasannya. -Penambahan POC NASA lewat air minum dengan dosis 1 - 2 cc/liter air minum memberikan berbagai nutrisi pakan dalam jumlah cukup untuk membantu pertumbuhan dan penggemukan ayam broiler.
- Dapat juga digunakan VITERNA Plus sebagai suplemen khusus ternak dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari, yang mempunyai kandungan nutrisi lebih banyak dan lengkap.
- Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio). Cara menghitungnya adalah, jumlah pakan selama pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen.
Contoh perhitungan :
Diketahui ayam yang dipanen 1000 ekor, berat rata-rata 2 kg, berat pakan selama pemeliharaan 3125 kg, maka FCR-nya adalah :
Berat total ayam hasil panen =
1000 x 2 = 2000 kg
FCR = 3125 : 2000 = 1,6
Semakin rendah angka FCR, semakin baik kualitas pakan, karena lebih efisien (dengan pakan sedikit menghasilkan bobot badan yang tinggi). Penggunaan POC NASA atau VITERNA Plus dapat menurunkan angka FCR tersebut.
4.3. Vaksinasi
Vaksinasi adalah pemasukan bibit penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk menimbulkan kekebalan alami. Vaksinasi penting yaitu vaksinasi ND/tetelo. Dilaksanakan pada umur 4 hari dengan metode tetes mata, dengan vaksin ND strain B1 dan pada umur 21 hari dengan vaksin ND Lasotta melalui suntikan atau air minum.
4.4. Teknis Pemeliharaan
- Minggu Pertama (hari ke-1-7). Kutuk/DOC dipindahkan ke indukan atau pemanas, segera diberi air minum hangat yang ditambah POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari dan gula untuk mengganti energi yang hilang selama transportasi. Pakan dapat diberikan dengan kebutuhan per ekor 13 gr atau 1,3 kg untuk 100 ekor ayam. Jumlah tersebut adalah kebutuhan minimal, pada prakteknya pemberian tidak dibatasi. Pakan yang diberikan pada awal pemeliharaan berbentuk butiran-butiran kecil (crumbles).
- Mulai hari ke-2 hingga ayam dipanen air minum sudah berupa air dingin dengan penambahan POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari (diberikan saat pemberian air minum yang pertama). Vaksinasi yang pertama dilaksanakan pada hari ke-4.
- Minggu Kedua (hari ke 8 -14).
Pemeliharaan minggu kedua masih memerlukan pengawasan seperti minggu pertama, meskipun lebih ringan. Pemanas sudah bisa dikurangi suhunya. Kebutuhan pakan untuk minggu kedua adalah 33 gr per ekor atau 3,3 kg untuk 100 ekor ayam.
- Minggu Ketiga (hari ke 15-21).
Pemanas sudah dapat dimatikan terutama pada siang hari yang terik. Kebutuhan pakan adalah 48 gr per ekor atau 4,8 kg untuk 100 ekor. Pada akhir minggu (umur 21 hari) dilakukan vaksinasi yang kedua menggunakan vaksin ND strain Lasotta melalui suntikan atau air minum. Jika menggunakan air minum, sebaiknya ayam tidak diberi air minum untuk beberapa saat lebih dahulu, agar ayam benar-benar merasa haus sehingga akan meminum air mengandung vaksin sebanyak-banyaknya. Perlakuan vaksin tersebut juga tetap ditambah POC NASA atau VITERNA Plus dengan dosis tetap.
- Minggu Keempat (hari ke 22-28).
Pemanas sudah tidak diperlukan lagi pada siang hari karena bulu ayam sudah lebat. Pada umur 28 hari, dilakukan sampling berat badan untuk mengontrol tingkat pertumbuhan ayam. Pertumbuhan yang normal
mempunyai berat badan minimal 1,25 kg. Kebutuhan pakan adalah 65 gr per ekor atau 6,5 kg untuk 100 ekor ayam. Kontrol terhadap ayam juga harus ditingkatkan karena pada umur ini ayam mulai rentan terhadap penyakit.
- Minggu Kelima (hari ke 29-35).
Pada minggu ini, yang perlu diperhatikan adalah tatalaksana lantai kandang. Karena jumlah kotoran yang dikeluarkan sudah tinggi, perlu dilakukan pengadukan dan penambahan alas lantai untuk menjaga lantai tetap kering. Kebutuhan pakan adalah 88 gr per ekor atau 8,8 kg untuk 100 ekor ayam. Pada umur 35 hari juga dilakukan sampling penimbangan ayam. Bobot badan dengan pertumbuhan baik mencapai 1,8 - 2 kg. Dengan bobot tersebut, ayam sudah dapat dipanen.
- Minggu Keenam (hari ke-36-42).
Jika ingin diperpanjang untuk mendapatkan bobot yang lebih tinggi, maka kontrol terhadap ayam dan lantai kandang tetap harus dilakukan. Pada umur ini dengan pertumbuhan yang baik, ayam sudah mencapai bobot 2,25 kg.
4.5. Penyakit
Penyakit yang sering menyerang ayam broiler yaitu :
- Tetelo (Newcastle Disease/ND)
Disebabkan virus Paramyxo yang bersifat menggumpalkan sel darah. Gejalanya ayam sering megap-megap, nafsu makan turun, diare dan senang berkumpul pada tempat yang hangat. Setelah 1 - 2 hari muncul gejala syaraf, yaitu kaki lumpuh, leher berpuntir dan ayam berputar-putar yang akhirnya mati. Ayam yang terserang secepatnya dipisah, karena mudah menularkan kepada ayam lain melalui kotoran dan pernafasan. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, maka untuk mengurangi kematian, ayam yang masih sehat divaksin ulang dan dijaga agar lantai kandang tetap kering.
- Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD)
Merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan Reovirus. Gejala diawali dengan hilangnya nafsu makan, ayam suka bergerak tidak teratur, peradangan disekitar dubur, diare dan tubuh bergetar-getar. Sering menyerang pada umur 36 minggu. Penularan secara langsung melalui kotoran dan tidak langsung melalui pakan, air minum dan peralatan yang tercemar. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, yang dapat dilakukan adalah pencegahan dengan vaksin Gumboro.
- Penyakit Ngorok (Chronic Respiratory Disease)
Merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum Gejala yang nampak adalah ayam sering bersin dan ingus keluar lewat hidung dan ngorok saat bernapas. Pada ayam muda menyebabkan tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan diare dengan kotoran berwarna hijau, kuning keputih-keputihan. Penularan melalui pernapasan dan lendir atau melalui perantara seperti alat-alat. Pengobatan dapat dilakukan dengan obat-obatan yang sesuai.
- Berak Kapur (Pullorum).
Disebut penyakit berak kapur karena gejala yang mudah terlihat adalah ayam diare mengeluarkan kotoran berwarna putih dan setelah kering menjadi seperti serbuk kapur. Disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum.
Kematian dapat terjadi pada hari ke-4 setelah infeksi. Penularan melalui kotoran. Pengobatan belum dapat memberikan hasil yang memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan dengan perbaikan sanitasi kandang.
Infeksi bibit penyakit mudah menimbulkan penyakit, jika ayam dalam keadaan lemah atau stres. Kedua hal tersebut banyak disebabkan oleh kondisi lantai kandang yang kotor, serta cuaca yang jelek. Cuaca yang mudah menyebabkan ayam lemah dan stres adalah suhu yang terlalu panas, terlalu dingin atau berubah-ubah secara drastis. Penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus sukar untuk disembuhkan. Untuk itu harus dilakukan sanitasi secara rutin dan ventilasi kandang yang baik. Pemberian POC NASA yang mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ternak, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan ayam, ketahanan tubuh ayam, mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran. Untuk hasil lebih optimal, pemberian POC NASA dapat dicampur dengan Hormonik dosis 1 botol POC NASA dicampur dengan 1-2 tutup botol Hormonik, atau 1 botol POC NASA dicampur dengan 2-4 kapsul Asam Amino. Dapat juga menggunakan VITERNA Plus yang merupakan suplemen khusus ternak dengan kandungan :
1. Mineral-mineral yang penting untuk pertumbuhan tulang, organ luar dan dalam, pembentukan darah dan lain-lain.
2. Asam-asam amino utama seperti Arginin, Histidin, Isoleucine, Lycine, Methionine , Phenylalanine, Threonine, Thryptophan, dan Valine sebagai penyusun protein untuk pembentukan sel, jaringan, dan organ tubuh
3. Vitamin-vitamin lengkap, yaitu A, D, E, K, C dan B Komplek untuk kesehatan dan ketahanan tubuh.
4.6. Sanitasi/Cuci Hama Kandang
Sanitasi kandang harus dilakukan setelah panen. Dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu pencucian kandang dengan air hingga bersih dari kotoran limbah budidaya sebelumnya. Tahap kedua yaitu pengapuran di dinding dan lantai kandang. Untuk sanitasi yang sempurna selanjutnya dilakukan penyemprotan dengan formalin, untuk membunuh bibit penyakit. Setelah itu dibiarkan minimal selama 10 hari sebelum budidaya lagi untuk memutus siklus hidup virus dan bakteri, yang tidak mati oleh perlakuan sebelumnya.
Copywrite by : Indonesia agriculture.
Langganan:
Postingan (Atom)